Suryadharma Ali Tak Terima Kiswah Dijadikan Barang Bukti Korupsi

Renatha Swasty    •    Selasa, 08 Sep 2015 02:15 WIB
korupsi haji
Suryadharma Ali Tak Terima Kiswah Dijadikan Barang Bukti Korupsi
Terdakwa korupsi penyelenggaraan haji Suryadharma Ali saat membacakan eksepsi di Pengadilan Tipikor Jakarta. (Antara/Sigid Kurniawan)

Metrotvnews.com, Jakarta: Terdakwa korupsi penyelenggaraan haji dan Dana Operasional Menteri (DOM), Suryadharma Ali (SDA) tak terima jika Kiswah (penutup Ka'bah) yang dimilikinya dijadikan barang bukti korupsi. SDA mengkalim Kiswah miliknya tak memiliki nilai ekonomis melainkan nilai agamis.

SDA dalam nota keberatan atau eksepsinya mengatakan, KPK menjadikan alat bukti selembar potongan Kiswah sebagai alat buktinya korupsi. Bukti itu kata dia baru disita KPK satu tahun lebih enam hari terhitung sejak ia dijadikan tersangka pada 22 Mei 2014.

"Saya tidak pernah dikonfirmasi apakah Kiswah itu dari seseorang untuk memuluskan maksudnya sebagai penyedia pemondokan atau katering," kata SDA saat membacakan eksepsi di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (7/9/2015).

Yang jelas kata dia, Kiswah yang ia miliki dapat ditemui di toko-toko dan kaki lima di Mekkah dan Madinah. Tetapi bukan Kiswah yang bertaburan emas dan permata .

Kiswah itu juga kata dia tidak memiliki nilai ekonomis yang dapat memperkaya mantan Ketua Umum DPP PPP itu, sebab Kiswah yang ia miliki hanya bernilai agamis spiritual.

"Tragis, dengan selembar Kiswah, KPK menjebloskan saya ke penjara," pungkas dia.

Dalam dakwaan diketahui SDA menerima Kiswah lantaran telah membantu penunjukkan langsung dalam penyewaan perumahan Jemaah Haji lndonesia di Arab Saudi pada pelaksanaan ibadah haji tahun 2010.

Padahal, perumahan itu tidak memenuhi beberapa persyaratan seperti daerahnya tidak familier dengan jemaah haji dan rawan kriminalitas serta tidak memiliki fasilitas yang memadai.

"Bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji tahun 2010, terdakwa menerima pemberian berupa potongan kain penutup ka'bah (kiswah) dari Mukhlisin dan Cholid Abdul Latief sebagai imbalan karena telah membantu meloloskan rumah-rumah yang ditawarkan," ujar Jaksa Penuntut Umum Supardi saat membacakan dakwaan, Senin (31/8/2015).


(MEL)