Sidang Kasus Penipuan Tas Hermes, Terdakwa Hadirkan Tiga Saksi

Damar Iradat    •    Rabu, 09 Sep 2015 00:52 WIB
Sidang Kasus Penipuan Tas Hermes, Terdakwa Hadirkan Tiga Saksi
Ilustrasi

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengacara terdakwa Devita Friska atas kasus penipuan tas merek ternama Hermes, Andi Hakim, menghadirkan tiga saksi yang dianggap dapat meringankan Devita. Tiga saksi ini, menurutnya dapat membuktikan ada rekayasa hukum dalam kasus yang didakwakan kepada kliennya.

Dari tiga saksi yang dihadirkan, dua di antaranya berhubungan langsung dengan terdakwa, dan satu saksi lagi merupakan saksi ahli. Ketiga saksi itu memberikan keterangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Gadjah Mada untuk meringankan dakwaan Devita.

Saksi pertama, Ahmad Suwandi, 36, yang merupakan pengantar kuitansi yang dipersoalkan oleh pelapor Margaret Vivi dan terdakwa Devita. Menurut Ahmad, kuitansi itu berasal dari majikannya, Leni.

Pada Maret 2014, menurut pengakuan Ahmad, Leni menyuruhnya untuk mengantar dua kuitansi kosong ke rumah Devita di Medan. Saat bertemu Devita, Ahmad menyerahkan amplop tersebut.

"Devita menandatangani dua kuitansi, tapi hanya satu kuitansi yang diberi keterangan," kata Ahmad, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Gadjah Mada, Selasa (8/9/2015).

Menurut Ahmad, keterangan itu tertulis soal pembayaran uang muka tas Hermes senilai Rp400 juta. Anehnya, dalam kuitansi tertera keterangan bulan Maret 2013. "Tapi, saya tidak bertanya soal keganjilan itu," kata Ahmad.

Sekembalinya dari kantor, Ahmad menyerahkan kuitansi tersebut kepada bosnya. Tiga hari kemudian, bosnya kembali menyuruh Ahmad untuk mengelem amplop yang sama dan mengirimkannya via ekspedisi pengiriman 'Kertas Jaya Pustaka'.

Saksi kedua yang dihadirkan pada persidangan, yakni ibu tiri terdakwa, Heni Marlina, 48. Heni diketahui tinggal di daerah Jakarta Barat. Meski terpisah jauh dengan anak tirinya, Devita yang tinggal di Medan mengaku komunikasi yang terjalin cukup intens.

"Devita sudah sekitar sepuluh tahun berbisnis online. Awalnya, Devita bisnis berlian Hongkong. Tapi, dia kemudian memilih untuk lebih fokus berjualan tas bermerek di toko onlinenya itu," papar Heni.

Menurut penuturan Heni, Devita juga kerap berpergian ke kota-kota besar di Asia seperti; Jakarta, Hongkong, dan Singapura. Hal ini menurut Heni, untuk aktivitas jual-beli yang dilakukan anak tirinya tersebut.

"Saya sering diberi tahu soal informasi tas merek yang asli dan yang palsu. Karena itu, saya paham soal kualitas tas-tas yang dijual anak saya. Saya juga sempat membantu Devita mengirimkan tas ke Jakarta," jelasnya.

Ia pun yakin, jika kasus ini diperkarakan hanya akal-akalan Vivi belaka. "Saya percaya ini cuma rekayasa Vivi saja," kata dia.

Saksi terakhir yang didatangkan pengacara Devita ialah seorang saksi ahli, Suhandi Cahaya, 61. Suhandi merupakan seorang pengacara yang saat ini bekerja sebagai dosen pascasarjana di Universitas Jayabaya.

Suhandi memberi tanggapan perihal kasus ini lebih cocok dibawa ke ranah perdata atau pidana. Selain itu, Suhandi juga membantu mendukung keterangan pengacara bahwa persidangan seharusnya dilakukan di Medan karena transaksi juga dilakukan di sana.

Pasca para saksi memberikan pengakuan, Hakim Budhy Hertantiyo memutuskan untuk melanjutkan sidang pada Senin (14/9/2015) depan dengan agenda pemeriksaan terdakwa. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Marlinang Samosir juga diberi kesempatan untuk menyusun kembali tuntutannya. Pengacara Devita, Anda juga diminta mempersiapkan pledoi bagi terdakwa.
(ALB)

Ganjar Pranowo Bantah Tudingan Nazaruddin

Ganjar Pranowo Bantah Tudingan Nazaruddin

1 hour Ago

Nama Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo disebut-sebut sebagai salah satu orang yang menerima …

BERITA LAINNYA