Angelina Jolie Kritisi Fenomena Pemerkosaan oleh Kelompok Ekstrem

Rosa Anggreati    •    Rabu, 09 Sep 2015 11:13 WIB
angelina jolie
Angelina Jolie Kritisi Fenomena Pemerkosaan oleh Kelompok Ekstrem
Angelina Jolie (Foto:AFP)

Metrotvnews.com, London: Pada pertemuan dengan Parlemen Inggris, Selasa, 8 September, Angelina Jolie mengkritisi pemerkosaan yang diduga dilakukan Islamic State (ISIS).

Jolie berbicara sebagai utusan khusus Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR). Dia memperingatkan bahwa ISIS menggunakan pemerkosaan sebagai senjata perang dan mendesak respons yang kuat dari negara-negara dunia.

"Kelompok teroris yang paling agresif di dunia saat ini tahu apa yang kita tahu, tahu bahwa pemerkosaan adalah senjata yang sangat efektif dan (ISIS) menggunakannya sebagai titik pusat teror dan cara mereka menghancurkan masyarakat dan keluarga, dengan menyerang, menghancurkan, dan tidak manusiawi," kata Jolie.

Selama ini Jolie dikenal sebagai aktivis yang aktif menyuarakan protes terhadap penggunaan kekerasan seksual dalam konflik peperangan. Istri Brad Pitt ini mengakui bahwa kemampuan dirinya sebagai seniman sangat terbatas.

Oleh karena itu, dia meminta politisi untuk berbuat lebih banyak dalam mengulurkan bantuan.

"Semua niat baik, itu indah, tapi hukum harus diubah. Kebijakan perlu diubah. Pemerintah dan pimpinan perlu duduk bersama-sama dan itu akan membuat perubahan yang lebih nyata," tegasnya seperti dilansir Aceshowbiz, Rabu (9/9/2015).

Bintang film Maleficent ini memperingatkan parlemen agar menyadari bahwa yang dilakukan ISIS bukanlah tindakan pemerkosaan belaka, tapi teror yang lebih serius.

"Yang paling penting adalah untuk memahami bahwa itu bukan tindakan seksual, itu adalah kekerasan yang brutal, teror senjata, dan sayangnya digunakan di mana-mana," tambahnya.

Pada kesempatan itu, Jolie juga mengutarakan pengalamannya bertemu seorang gadis Irak berusia 13 tahun yang berulang kali diperkosa, kemudian dijual seharga USD40.

"Mereka mengatakan kepada saya, hal yang bahkan lebih buruk daripada kekerasan fisik adalah bahwa mereka kemudian harus berdiri di kamar dan menonton teman-teman mereka dijual. Apakah mereka senilai 40 dolar? Lima puluh dolar? Apa nilai mereka? Itu membuat mereka bertanya, apa yang membuatnya layak," kata Jolie.

Pemerkosaan yang dilakuan ISIS sudah kelewat batas. Menurut pengakuan sejumlah anak di bawah umur yang diculik dan dijadikan budak seks, ISIS menganggap perkosaaan sebagai bagian dari ibadah.

Seorang bocah perempuan berumur 12 tahun yang melarikan diri dari ISIS menceritakan kepada New York Times dirinya sempat mendapat penjelasan dari seorang militan ISIS. Militan itu berkata dirinya tidak berdosa karena yang diperkosanya bukan seorang Muslim.

"Dia bilang kepada saya bahwa dia boleh memperkosa non-Muslim. Dia bilang dengan memperkosa saya, dia lebih dekat dengan Tuhan," kata bocah itu.

Muslim di seluruh dunia telah mengutuk ISIS karena membawa-bawa nama Islam dalam membenarkan aksi brutal mereka.


(ROS)