Ini Kelebihan dan Kelemahan Calon Komandan Surabaya

Amaluddin    •    Rabu, 09 Sep 2015 16:15 WIB
pilkada serentak
Ini Kelebihan dan Kelemahan Calon Komandan Surabaya
Tri Rismaharini-Wisnu Sakti Buana (kiri) dan Rasiyo-Lucy Kurniasari (kanan). (Antara/Herma-Metrotvnews/Amaluddin)

Metrotvnews.com, Surabaya: Pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Suko Widodo, menilai kedua pasangan calon wali kota dan wakil wali kota yang menjadi peserta Pilkada Surabaya 2015, cukup seimbang.

Menurut Suko, calon petahana Tri Rismamaharini dan Rasiyo merupakan sosok birokrat yang berpengalaman. Sedangkan Wisnu Sakti Buana dan Lucy Kurniasari juga sama-sama politisi yang memiliki konstituen riil cukup banyak.

"Saya lihat kedua paslon (pasangan calon) yang sudah mendaftar itu (Risma-Wisnu dan Rasiyo-Lucy) seimbang. Keduanya memenuhi ekspektasi warga Surabaya," kata Dosen Fisip itu, dihubungi di Surabaya, Rabu (9/9/2015).

Meski demikian, kata Suko, kedua paslon tersebut tentu memiliki kekurangan dan kelebihan. Menurutnya, kinerja Risma selama memimpin Surabaya cukup bagus, tapi tetap memiliki kelemahan. Misalnya, pembangunan cenderung bersifat fisik semata dan kurang merata. 

Sedangkan sosok Lucy Kurniasari, lanjut Suko, seorang politisi murni yang juga pernah menjadi anggota DPR RI tahun 2009-2014. Sementara Wisnu Sakti Buana juga mantan anggota DPRD kota Surabaya tahun 2009 sebelum menjadi Wakil Wali Kota Surabaya menggantikan Bambang DH yang mundur dari jabatannya.

Nah, dengan munculnya sosok Lucy, kata Suko, partai pengusung berharap bisa mendulang suara dari pemilih perempuan yang jumlahnya lebih banyak dibanding pemilih laki-laki. Terlebih, kata dia, kaum perempuan lebih konsisten. 

"Risma lebih kuat karena trust (kepercayaan). Sedangkan Lucy lebih kuat dalam urusan expert (keahlian). Jadi faktor penentu dan pertempurannya adalah tergantung pada aktivitas keduanya dalam mempengaruhi pemilih perempuan," tegasnya.

Sementara ekspektasi masyarakat Surabaya terhadap pasangan calon berbeda-beda. Misalnya, antara wilayah perkotaan, tengah, dan pinggiran. Di perkotaan, kata Suko, masyarakatnya cenderung bersifat personal atau kandidat bisa beri apa pada pemilih (relative benefit). Sedangkan di pinggiran cenderung bersifat komunal.

"Jadi pasangan calon yang bisa mendekati tokoh masyarakat setempat berpeluang menang di wilayah pinggiran," imbuhnya.

Menurut Suko, pasangan Risma-Wisnu lebih diuntungkan karena konstituen PDIP lebih loyalis, dibandingkan massa pendukung PD dan PAN.

"Namun, jika mesin partai pengusung Rasiyo dan Lucy bisa lebih hidup dalam mengorganisir mencari dukungan. Bisa jadi Rasiyo dan Lucy yang akan menang karena dalam pilkada yang dijual adalah sosok, bukan partai pengusung," imbuhnya.

Suko menjelaskan, harapan warga Surabaya pada pemimpin ke depan bisa mengatasi soal kemacetan, banjir, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan ruang publik. "Jadi, calon Wali Kota Surabaya yang bisa penuhi harapan wargalah yang punya peluang menang," tandasnya.


(SAN)