Membungkus Optimisme dalam Paket September

   •    Jumat, 11 Sep 2015 07:54 WIB
paket kebijakan ekonomi
Membungkus Optimisme dalam Paket September

DALAM kamus kesehatan, satu hal yang mesti selalu dijaga di kala kondisi sakit ialah optimisme. Tanpa itu, tingkat kepercayaan diri akan drop dan pada gilirannya membuat sakit bukannya berkurang, melainkan malah kian parah. Analogi itu pas betul untuk menggambarkan situasi perekonomian domestik belakangan ini. Meski pertumbuhan melambat, pun rupiah terus terseok-seok dan amat inferior di hadapan dolar AS, ekonomi Indonesia memang belum masuk fase krisis. 

Perekonomian kita 'hanya' sakit. Karena itu, kita butuh sokongan optimisme supaya sakit itu tak berkembang menjadi kritis atau krisis. Dua hari lalu, pemerintah telah memulai 'proyek optimisme' tersebut dengan mengeluarkan paket kebijakan stimulus ekonomi tahap satu. Melalui paket kebijakan yang disebut Paket September 1 itu, pemerintah ingin meyakinkan investor bahwa mereka tidak diam. 

Pemerintah ingin memperlihatkan mereka siap hadir di pasar untuk memberikan stabilisasi dalam situasi yang tidak menentu. Secara umum, Paket September 1 berfokus pada tiga hal besar, yakni mendorong daya saing industri, mempercepat proyek-proyek strategis nasional, dan mendorong investasi di sektor properti. Dari ketiga poin itu, amat terlihat keberpihakan pemerintah terhadap sektor riil ketimbang sektor keuangan.

Tujuannya, seperti dikatakan sendiri oleh Presiden Joko Widodo, menggerakkan sektor riil yang akhirnya memberikan fondasi untuk lompatan kemajuan ekonomi ke depan. Dengan target ideal seperti itu, pemerintah pun menjadi tidak ragu menetapkan terobosan berani, misalnya merombak 89 peraturan yang dinilai menghambat daya saing industri. Presiden sendiri yakin Paket September 1 itu akan memperkuat industri nasional, mengembangkan UMKM, memperlancar perdagangan antardaerah, dan membuat pariwisata bergairah. 

Begitu pula dengan ekonomi perdesaan yang akan bergerak lebih laju dengan adanya pembangunan infrastruktur berpola padat karya. Beberapa kebijakan dalam paket tersebut, khususnya yang proindustri, juga diyakini dapat memengaruhi nilai tukar rupiah melalui perbaikan kondisi neraca perdagangan. Dalam jangka pendek, kebijakan itu diharapkan dapat meningkatkan ekspor sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Respons pemerintah dalam mengantisipasi ancaman krisis itu tentu patut kita hargai. Langkah-langkah segera seperti ini yang akan terus kita butuhkan di saat kondisi perekonomian global masih berpotensi memberikan kejutan-kejutan terhadap ekonomi domestik. Akan tetapi, pembuktian sebuah kebijakan ada di lapangan, apakah ia hanya indah di atas kertas atau memang memiliki dampak signifikan untuk memperbaiki keadaan. 

Yang mesti dilakukan setelah menyusun kebijakan ialah memastikan semua kebijakan itu berjalan. Sebagus apa pun paket kebijakan yang dibuat, bila semua instrumen pelaksanaannya tidak disiapkan secara rapi, kebijakan itu akan majal. Sebaik apa pun paket kebijakan itu, jika realisasinya asal-asalan, hasil yang akan didapat tentu asal-asalan pula.  

Pemerintah telah membungkus dengan rapi semangat optimisme ke dalam paket kebijakannya. Kini tugas pemerintah pula untuk mengawal implementasi di lapangan karena efektivitas kebijakan tersebut yang kelak akan menciptakan sentimen positif terhadap pergerakan ekonomi sekaligus menjaga ekspektasi publik agar tidak memudar