Hotspot Meningkat, Asap Makin Pekat

Puput Mutiara    •    Jumat, 11 Sep 2015 16:13 WIB
asap
<i>Hotspot</i> Meningkat, Asap Makin Pekat
Personel TNI AD mencoba memadamkan kebakaran lahan gambut milik warga di Gambut Jaya, Muaro Jambi, Jambi, Kamis (10/9/2015). Foto: Wahyu Putro A/Antara

Metrotvnews.com, Palembang: Meskipun operasi darurat asap telah ditingkatkan, namun titik panas (hotspot) di Sumatera dan Kalimantan relatif tetap tinggi, bahkan meningkat. Berdasarkan pantauan Satelit Terra dan Aqua pada Jumat (11/9/2015) pukul 05.00 WIB terdapat 1.887 hotspot. Rinciannya, sebanyak 575 di Sumatera dan 1.312 di Kalimantan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memaparkan, hotspot di Sumatera masih terkonsentrasi di Sumatera Selatan 449, Jambi 93, Bangka Belitung 49, dan Riau 11. Di Kalimantan terdata 1.312 hotspot, yaitu di Kalimantan Barat 508, Kalimantan Selatan 127, Kalimantan Tengah 579, Kalimantan Timur 95 dan Kalimantan Utara 4.

Padahal sebelumnya, Selasa 8 September pukul 17.00 WIB, data hotspot dari Satelit Modis terpantau 1.317 hotspot di Sumatera dan Kalimantan, yaitu di Kalbar 346, Kalsel 102, Kalteng 744, Kaltim 55, Jambi 3, Babel 17, Lampung 3, dan Sumsel 47.

"Diperkirakan hingga Senin 14 September, potensi kebakaran masih tinggi karena cuaca makin kering. Asap juga masih mengepung Sumsel, Jambi, Riau, sebagian Lampung, dan hampir seluruh wilayah Kalimantan kecuali Kaltara," ujarnya melalui rilis yang diterima Media Indonesia, Jumat (11/9/2015).

Selain itu, jarak pandang pada pagi ini di Pekanbaru hanya 500 meter, Rengat dan Pelalawan 200 meter, Jambi 500 meter, Muaro Jambi 400 meter, Kalteng 150-700 meter, dan Kalsel 500 meter.

Sementara untuk kualitas udara, sebagian besar berada pada level tidak sehat hingga berbahaya. Data sementara penderita ISPA di Riau 14.566 jiwa, Sumsel 22.855 jiwa, dan Kalsel 40.000 jiwa.

Demikian pula dengan catatan Badan Nasional Lingkungan Hidup Singapura. Kualitas udara terus memburuk, yaitu 144-167 PSI atau tergolong tidak sehat (unhealthy). Udara dinyatakan tidak sehat jika PSI antara 1001-200.

Kepala BNPB Willem Rampangilei menyampaikan, upaya pemadaman api masih terus dilakukan baik dari udara maupun darat. Begitu pula dengan penegakan hukum, sosialisasi dan pelayanan kesehatan.

"Tugas pokok dalam rencana operasi perlu dilakukan serentak dalam pemadaman, pengerahan sumberdaya, mencegah terjadinya kebakaran baru, intensifkan sosialisasi, hingga proses penegakan hukum," katanya saat memimpin rapat koordinasi di Posko Satgas Siaga Bencana Asap Akibat Karhutla di Palembang (11/9).

Lebih lanjut, sambungnya, BNPB akan menambah satu helikopter MI-171 dari Papua ke Palembang serta akan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan terkait perizinan penerbangan. Sebanyak 1.050 personel TNI yang diperbantukan Satgasops BNPB ditempatkan di Musi Banyuasin, OKI, dan Banyuasin.


(KRI)