Ini Agenda Kunjungan DPR ke AS

Kesturi Haryunani    •    Jumat, 11 Sep 2015 16:20 WIB
dpr ads
Ini Agenda Kunjungan DPR ke AS

Metrotvnews.com, Washingtn D.C: Ketua DPR Setya Novanto beserta delegasi DPR berkunjung ke Washington D.C., Amerika Serikat, Kamis (10/9/2015). Di sana, mereka menghadiri sejumlah pertemuan dan diskusi.

Berikut agenda Setya dan delegasi DPR di AS:

Diskusi dengan US–ASEAN Business Council

Pertemuan dilakukan pukul 08.00 – 09.30 waktu setempat. Delegasi Indonesia yang terdiri dari Setya, Fadli Zon, Nurhayati Aseegaf, Roem Kono, Robert Kardinal, dan Markus Nari bertemu pimpinan perusahaan terkemuka di AS, seperti Coca Cola, Philip Moris, General Electric, dan Freeport.

Pertemuan membahas kerja sama yang telah berlangsung dan pengembangan kerja sama ekonomi. Dalam pertemuan itu, pengusaha AS menanyakan kondisi ekonomi dan politik Indonesia. Pengusaha AS juga menyampikan keluhan terkait berbagai kendala investasi di Indonesia, seperti regulasi yang kurang kondusif maupun kurangnya kepastian investasi.

"Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi, termasuk penyederhanaan proses investasi dan deregulasi kebijakan. Deregulasi meliputi penyederhanaan kira-kira 160 peraturan di bidang investasi, industri, dan perdagangan," kata Setya Novanto.

Menurut delegasi DPR, Indonesia juga membuka kesempatan bagi calon investor potensial dari luar negeri untuk melakukan hubungan ekonomi, perdagangan, dan investasi di Indonesia. DPR mendukung kebijakan pemerintah yang memberi kepastian hukum, kepastian investasi bagi perusahaan-perusahaan asing termasuk dari AS.

Pertemuan dengan Presiden Tempore Senat AS, Orrin Hatch

Pukul 10.00 - 10.45 waktu setempat, delegasi DPR bertemu dengan senator senior dan Presiden Pro Tempore Senat AS Orrin Hatch di Capitol, Washington DC. DPR berharap Senat AS mendukung kesepakatan kerja sama bilateral kedua negara terkait kemaritiman, pertahanan, dan perdagangan.

"Hubungan Indonesia–AS penting, karena Indonesia negara demokrasi yang besar dengan wilayah yang luas. Posisi Indonesia penting terutama menghadapi isu-isu regional dan global," jelas Hatch.

DPR juga mengharapkan kerja sama antarparlemen bisa lebih ditingkatkan. "Indonesia dan AS sudah memilki kaukus parlemen Indonesia-AS, namun kita harapkan hubungan lebih baik," kata Setya.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon sempat menyinggung perlunya perhatian RI-AS dalam menangani masalah yang berkembang di Laut Cina Selatan.

Diskusi di USINDO (US – Indonesia Society)

Pukul 11.30 – 13.00 waktu setempat, delegasi DPR menghadiri USINDO Special Open Forum Luncheon di Cosmos Club, Washington DC. Pertemuan dihadiri 120 tokoh bisnis, diplomat, akademisi, dan masyarakat AS yang menaruh perhatian pada hubungan AS-Indonesia.

Sebagai pembicara tunggal, Setya menyampaikan peran DPR setelah pemilihan presiden 2014. "DPR kini memiliki peran kuat mengawasi jalannya pemerintahan dalam rangka checks and balances. Meskipun terjadi power block dalam bentuk dua koalisibesar (Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat), DPR mengedepankan kepentingan nasional dan kepentingan rakyat," tutur Setya.

Menurut Setya, DPR kini dilengkapi tambahan tenaga ahli (satu anggota dua staf administrasi dan lima tenaga ahli) untuk mendukung kinerja. Ia juga menjelaskan keberadaan Badan Akuntabilitas Keuangan Negara di DPR tidak diperlukan lagi, karena ada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Sehingga tidak terjadi tumpang tindih pemeriksaan keuangan negara.

Pertemuan dengan Ketua DPR Amerika Serikat, John Boehner

Pukul 13.30 – 14.30 waktu setempat, Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon bertemu Ketua DPR AS John Boehner di Gedung Kongres AS. Pertemuan untuk memperkuat hubungan AS dan Indonesia.

"Indonesia negara yang penting bagi AS dan kerja sama di berbagai bidang perlu diperkuat," ujar Boehner.

Dalam kesempatan itu, Fadli Zon menyampaikan usulan mengenai peningkatan program kerja sama dengan Kongres AS untuk peningkatan kapasitas peneliti dan pustakawan DPR, melalui pelatihan di Congressional Research Service and Library of Congress. Boehner mendukung usulan tersebut dan meminta stafnya menindaklanjuti proposal DPR.

Kunjungan ke Library of Congress

Pada pukul 15.00-17.00 waktu setempat, Ketua DPR dan Wakil Ketua DPR melakukan kunjungan terakhir ke Library of Congress. Kunjungan ini untuk mengetahui peran perpustakaan dan pelayanan riset bagi anggota parlemen.

Library of Congress atau Perpustakaan Kongres adalah think tank parlemen. Perpustakaan ini memiliki 162 juta benda koleksi, didukung 3200 orang pegawai dan 600 orang tenaga peneliti dari berbagai bidang.

Seluruh anggota parlemen dapat mengakses semua informasi di Perpustakaan Kongres, termasuk layanan penelitian. Semua bahan di Perpustakaan Kongres dapat digunakan oleh publik.

DPR menilai, Perpustakaan Kongres bisa dijadikan contoh dan rujukan untuk merevitalisasi perpustakaan DPR yang ada sekarang. DPR pun mengajukan kerjasama dan dukungan Perpustakaan Kongres untuk DPR.

Pihak Library of Congress siap memfasilitasi staf pustakawan dan peneliti untuk magang di Perpustakaan Kongres. Sehingga di masa depan Indonesia bisa memiliki perpustakaan yang representatif dan menjadi tulang punggung peneliti, tenaga ahli dan anggota DPR dalam menjalankan tugas legislatif.


(NIN)