Penguatan Rupiah Tergantung Fundamental Ekonomi

Arif Wicaksono    •    Minggu, 13 Sep 2015 13:13 WIB
rupiah
Penguatan Rupiah Tergantung Fundamental Ekonomi
illustrasi. ANT/Rosa

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemotongan suku bunga oleh bank sentral Tiongkok pada  26 Agustus lalu nampaknya telah meredam kepanikan di pasar Asia dan Asia Tenggara. Hal ini membuat mayoritas mata uang negara-negara ASEAN termasuk Rupiah menjadi agak stabil dengan adanya pemotongan suku bunga tersebut. 

“Rupiah bahkan terlihat mengalami sedikit pemulihan di mana USD dengan IDR turun ke level Rp13.990,42 pada 27 Agustus dari Rp14.256,48 di hari sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan sentimen terhadap Indonesia,” ujar Jameel Ahmad, Kepala Analis Pasar FXTM di dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (13/9/2015).

Dengan demikian, fundamental ekonomi akan tetap menjadi ancaman terhadap mata uang garuda. Situasi makro ekonomi Indonesia memperlihatkan tingkat Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) yang terus menurun, dari 6,2 persen di 2010 ke 5,0 persen di 2014 an 4,7 persen di semester pertama 2015. Stimulus ekonomi yang menyasar sektor manufaktur telah dipersiapkan, dan hal itu dapat menolong kondisi ekonomi makro untuk pulih dari kejatuhan.

Faktor fundamental lainnya juga turut membayangi, misalnya lapangan kerja yang bertumbuh hanya 12,6 persen, lebih lambat daripada yang diharapkan dan juga tingkat inflasi di 7,2 persen lebih tinggi daripada ekspektasi. Namun yang menjadi kunci perlemahan adalah sektor manufaktur yang diperkirakan akan tumbuh sebesar 6,1 persen tahun ini, dibandingkan dengan yang diharapkan 6,8 persen.

“Sektor manufaktur dipandang sebagai kekuatan baru dalam perekonomian Indonesia, yang dapat mengimbangi potensi tekanan dan penurunan perekonomian akibat jatuhnya harga-harga komoditas,” kata dia.



(SAW)