Pelajaran di Balik 'Kasus' Pimpinan DPR Ketemu Trump

Tri Kurniawan    •    Senin, 14 Sep 2015 07:40 WIB
donald trump
Pelajaran di Balik 'Kasus' Pimpinan DPR Ketemu Trump
AFP Photo

Metrotvnews.com, Jakarta: Anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan Adian Napitupulu berharap Setya Novanto dan Fadli Zon dicopot dari jabatan sebagai Ketua dan Wakil Ketua DPR. Dengan begitu, mungkin akan memberikan efek jera bagi pejabat yang sewenang-wenang menggunakan jabatan.

"Kalau mereka bisa diganti bagus buat sejarah bangsa ini. Bagus buat DPR ke depan. Ada sebuah peristiwa yang memberikan pelajaran buat bangsa, bahwa orang tidak bisa semena-mena menggunakan kewenangannya apakah itu di legislatif atau di eksekutif," kata Adian kepada Metrotvnews.com, Jumat pekan lalu.


Anggota DPR di antaranya Adian Napitupulu (kiri), menyerahkan berkas laporan dugaan pelanggaran etik oleh pimpinan DPR kepada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin 7 September 2015. Antara Foto/Akbar Nugroho Gumay

Seperti diketahui, Novanto dan Fadli menghadiri acara jumpa pers bakal calon presiden Amerika Serikat Donald Trump di Trump Tower, Amerika Serikat, awal September. Trump mengenalkan Novanto ke publik Amerika sebagai Ketua DPR. Kehadiran Novanto dan Fadli tersebut dianggap melanggar kode etik.

(Klik: Buntut Pertemuan Dengan Donald Trump, Pimpinan DPR Diminta Dirombak)

Adian dan enam anggota DPR lainnya sudah melaporkan Novanto dan Fadli ke Mahkamah Kehormatan Dewan. Ketujuh orang tersebut terus mengumpulkan bukti-bukti yang bisa menjerat Setya dan Fadli bahwa keduanya melanggar etika. Adian yakin jika MKD berpikir objektif, Setya dan Fadli turun dari kursi pimpinan Dewan.

"Kami mendorong teman-teman di MKD berpikir rasional dan objektif tanpa menghilangkan ideologi dan nasionalisme bangsa ini," ujarnya.


AFP Photo

Aktivis 98 itu menyampaikan, menemukan bukti pelanggaran etika Novanto dan Fadli sangat mudah karena keduanya berada di acara terbuka. Yang harus dipastikan dalam pengusutan kasus ini, menurut dia, adalah MKD tidak hanya menjadi benteng kehormatan Dewan tapi harus menjadi benteng negara, martabat bangsa, ideologi, dan nasionalisme.

"Kalau proses di MKD  terbuka akan banyak hal menarik, kita akan mengetahui bagaimana permainan di belakang layar, (ada) investasi dan sebagainya," ujar dia.

Setya Novanto mengaku tidak kuasa menolak ajakan Trump untuk hadir dalam konferensi pers. Pria yang akrab disapa Setnov ini juga tidak menyangka diperkenalkan sebagai Ketua DPR dalam kesempatan tersebut.

"Saya enggak menyangka, begitu dia (Donald Trump) melihat saya, lalu saya ditarik ke podium, dan dia menyampaikan, ini adalah ketua DPR di Indonesia dan saya katakan iya, karena saya memang ketua DPR," kata Novanto dalam Program Primetime News Metro TV, Minggu 13 September.

(Klik: Temui Donald Trump, Ketua DPR Bantah Langgar Kode Etik)

Juru Bicara Ketua DPR Nurul Arifin menjelaskan Novanto dan rombongan menemui pengusaha sukses Negeri Paman Sam itu di sela-sela agenda resmi. Menurutnya, pimpinan DPR datang ke Amerika Serikat untuk menghadiri undangan Konferensi  ke-IV Ketua Parlemen Dunia, 31 Agustus hingga 2 September 2015.

Dia mengatakan, banyak hal yang sudah dilakukan Novanto di Amerika Serikat. Mulai dari menjadi pembicara dalam pertemuan tersebut dengan bahasan isu-isu demokrasi dan kesejahteraan hingga pertemuan bilateral dengan ketua parlemen sejumlah negara.


(TRK)

ICW: Nama Hilang di Dakwaan Setnov Karena KPK Hati-hati

ICW: Nama Hilang di Dakwaan Setnov Karena KPK Hati-hati

2 hours Ago

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) berpendapat hilangnya sejumlah nama politisi yang seb…

BERITA LAINNYA