Perempuan Figur Sentral Bentengi Keluarga dari Korupsi

M Rodhi Aulia    •    Selasa, 15 Sep 2015 10:53 WIB
kpk
Perempuan Figur Sentral Bentengi Keluarga dari Korupsi
Seminar bertajuk Kekuatan Perempuan, Inspirasi Perubahan di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta--Metrotvnews.com/M Rodhi Aulia

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai, perempuan merupakan sosok sentral dalam keluarga yang dapat membentengi keluarga dari korupsi. Figur perempuan amat menentukan korupsi dapat dicegah atau malah tumbuh subur.

"Perempuan sebagai figur sentral dalam keluarga harus mampu membentengi diri dan keluarganya dari korupsi," kata Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK Sujanarko dalam seminar bertajuk 'Kekuatan Perempuan, Inspirasi Perubahan' di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Selasa (15/9/2015). Seminar diikuti oleh perempuan DKI Jakarta.

Perempuan, kata Sujanarko, memiliki kekuatan luar biasa. Sebab, perempuan dalam setiap keluarga sangat menentukan, apakah tindakan korupsi dapat dicegah sedini mungkin atau justru malah mendorong aktif praktik haram tersebut di dalam keluarga.

"Kenapa fokus pada perempuan? Karena pria suka gede rasa. Ketika pria banyak memberikan sesuatu kepada perempuan, maka perempuan itu akan menjadi lebih baik. Padahal tidak minta. Apalagi istri yang cukup matre. 'Pak tetangga kita punya mobil baru'. Istri memang tidak meminta, tapi menantang suami. Apakah mau beli mobil yang sama. Dan laki-laki kan sok jagoan. Tidak mau kalah dan akhirnya beli," terang Sujanarko.

Pria yang akrab disapa Koko ini menegaskan, KPK gencar melakukan upaya penguatan dan penyadaran dengan menggandeng berbagai pihak yang peduli. Upaya ini adalah bagian dari program atau gerakan Saya Perempuan Antikorupsi (SPAK).

Filosofi gerakan ini adalah menciptakan perempuan yang mencintai keluarganya, perempuan yang menghargai dirinya, dan perempuan yang menikmati kehidupannya. Perempuan yang menikmati kebebasannya, perempuan yang melindungi dirinya dan perempuan yang melindungi orang-orang yang dicintainya.

Ke depan dari berbagai upaya pencegahan ini, Koko berharap lahir para agen yang terdiri dari para perempuan. Dari kegiatan sejak 2014 sudah lahir sebanyak 454 agen di 15 provinsi se-Indonesia. Para agen ini datang dari berbagai latar belakang.

"Untuk di DKI Jakarta saat ini target kita 50 orang agen," kata Inspektorat Pemprov DKI Jakarta Larso Marbun dalam kesempatan yang sama.

Para perempuan ini terdiri dari unsur pegawai dari beberapa SKPD tingkat kota, kabupaten, kecamatan, kelurahan, PKK, guru, dan Dharma Wanita. Mereka akan mendapatkan pelatihan untuk pelatih pada 6-8 Oktober 2015 di Gedung Abdul Muis, Jakarta.

Program ini diyakini berhasil karena sudah mendatangkan sejumlah perubahan posotif. Di antaranya membebaskan 400 ribu pasangan miskin dari pungli ketika mengurus dokumen identitas hukum, banyak perempuan mulai kritis menanyakan asal uang yang diberikan suaminya, beberapa istri pejabat tidak lagi menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, dan mengajarkan kejujuran lainnya dalam kehidupan sehari-hari.


(YDH)