Komisaris AD Segera Disidang Kode Etik dan Disiplin

   •    Minggu, 21 Jul 2013 16:54 WIB
 Komisaris AD Segera Disidang Kode Etik dan Disiplin
Ilustrasi--Dok.MI/bb

Metrotvnews.com, Jakarta: Albertus Dedy Sulistiyo Nugroho (AD), Anggota Direktorat II Tindak Pidana Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal Polri segera diajukan ke muka persidangan Kode Etik dan Disiplin Anggota Polri atas aksi pencurian dokumen yang dilakukannya di Kantor Badan Narkotika Nasional.

"Jelas dia melakukan pelanggaran disiplin lewat kebohongan yang dilakukannya, juga (pelanggaran) prosedur pengambilan dokumen di BNN itu. Dan yang bersangkutan sudah akui itu," ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen Ronny F Sompie, kepada wartawan, Minggu (21/7).

Namun, ia sendiri belum mengetahui kepastian kabar soal jadwal sidang komisaris AD tersebut. Yang jelas, katanya, Divisi Profesi dan Pengamanan Polri tengah merampungkan berkas AD yang berpangkat Komisaris itu untuk segera dimajukan ke Komisi Etik dan Profesi Polri.

"Jadwal sidangnya, saya belum dapat kepastian tanggalnya. Tapi itu sesegera mungkin," imbuh Ronny.

Dia menambahkan, ihwal pencurian dokumen sendiri saat ini masih diproses di Direktorat I Tindak Pidana Umum Polri. Walhasil, sanksi yang diterimanya berpotensi ganda. Yakni, dari sisi etik dan disiplin, dan juga sanksi pidana. Hukumannya, bisa menjadi akumulasi ataupun alternatif. Namun, ia enggan berandai-andai soal sanksi apa yang kemungkinan diberikan terhadap AD. "Proses yang lain masih ditelusuri secara pidana," ucapnya.

Jenis dokumen yang diambil dari ruang Tata Usaha di lantai enam Gedung BNN itu sendiri, katanya, adalah dua bundel data mengenai surat administrasi dirinya semasa menjadi Kepala Subdirektorat Pengejaran Direktorat Tindak Kejar BNN.

"Karena itu ruang Tata Usaha, tidak mungkin berkas penyidikan-penyeidikan. Itu dokumen adminsitrasi kebanyakan. Surat yang masuk dan keluar yang kebanyakan dimilikinya waktu kerja di BNN. Tapi kalau tanpa surat perintah tidak boleh ambil sendiri. Itu melanggar prosedur," urai Ronny.

Kebohongan yang dilakukan AD sendiri tak terbantahkan lagi setelah penyelidikan bersama antara Ditipideksus Polri dengan BNN mengungkap sejumlah bukti yang disertai dengan kesaksian Satpam BNN. Dua hal itu mengungkap kebohongan yang diucapkan AD sebelumnya.

Bahwa, AD mengaku tak mengambil dokumen apapun selain data miliknya. Dan ternyata ada dokumen lain yang diambil. Kedua, alibi pengambilan slip gaji yang belum dicairkan BNN sejak Agustus 2012 hingga Januari 2013. Padahal, BNN sendiri membuktikan gaji itu sudah semuanya dibayarkan.

Indikasi pidananya sendiri didapat dari tindak pengambilan dokumen tanpa izin institusi terkait, dan adanya bujukan yang menjurus paksaan terhadap Satpam BNN saat AD hendak masuk ke lantai enam Gedung BNN, Kamis (4/7) malam, itu. (Arif Hulwan)


KPK Hormati Putusan Sela Praperadilan Novanto

KPK Hormati Putusan Sela Praperadilan Novanto

1 day Ago

KPK akan tetap menghadapi proses persidangan selanjutnya yang masuk dalam tahap pembuktian.

BERITA LAINNYA