Pengusaha Penggemukan Sapi: Kami Bukan Kartel

Anggitondi Martaon    •    Selasa, 15 Sep 2015 20:41 WIB
daging sapi
Pengusaha Penggemukan Sapi: Kami Bukan Kartel
Suasana sidang perkara daging sapi. (MTVN/Anggitondi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Salah seorang pengusaha penggemukan sapi (feedlotter), Riza Haerudin, ‎menolak jika dirinya disebut sebagai kartel daging sapi yang menyebabkan melonjaknya harga daging di pasaran.

‎Menurutnya, tingginya harga daging disebabkan karena jumlah permintaan pasar terhadap daging tidak sesuai dengan ketersediaan stok yang dimiliki feedlotter lantaran pembatasan kuota impor oleh pemerintah.

‎"Itu semua enggak ada di dalam masalah ini, yang menjadi masalah utama sampai hari ini adalah masalah supply and demand. Jadi mekanisme pasar yang ada saat ini adalah suplainya kurang, permintaannya naik. Ini yang menurut kita sampai hari ini," kata Riza usai menghadiri sidang perdana perkara daging sapi di gedung KPPU, Jakarta, Selasa (15/9/2015).

Riza menjelaskan bahwa kartel adalah sebuah individu atau kelompok melakukan perbuatan mengatur dalam menentukan harga dan juga mengatur penyebaran produk.‎ "Bahasa kartel kita harus mengerti, terjemahan kartel adalah melakukan kegiatan fixing price dan melakukan monopoli‎," terangnya.

Selain itu, mengenai tuduhan Kabareskrim yang mengatakan feedlotter melakukan penimbunan sapi, Riza menjelaskan bahwa tidak ada istilah penimbunan sapi. Riza berpedoman terhadap Perpres nomor 71 tahun 2015 yang mengatur penetapan dan penyimpanan kebutuhan pokok dan barang penting.

Menurutnya penggemukan sapi berbeda dengan penimbunan daging sapi. "Perpres itu yang kita harapkan bisa membedakan mana yang namanya penimbunan, mana yang bukan. Kalau yang umpamanya daging sapi disimpan itu bisa dikatakan penimbunan. Kalau sapi adalah bahan baku produksi," tukasnya.‎


(MEL)