Dwelling Time, dari Tanjung Priok ke Senayan

Coki Lubis    •    Rabu, 16 Sep 2015 01:00 WIB
dwelling time
<i>Dwelling Time</i>, dari Tanjung Priok ke Senayan
foto: Antara/dok.

Metrotvnews.com, Jakarta: Di saat Kabareskrim Komjen Budi Waseso mengangkat kasus korupsi mobile crane Pelindo II, saat publik meyakininya sebagai pintu yang membuka ke kasus-kasus  lebih besar. Setidaknya hingga tersiar kabar penyelidikan mengarah pada keterlibatan kerajaan bisnis petinggi negara.

Seiring terbongkarnya praktek mafia dan 'raja' kecil di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pencopotan Buwas dari Kabareskrim mencuri perhatian. Wacana pembentukan Pansus Pelindo II pun mencuat, sebagai respon dari DPR.

"Kalau nanti malah ada temuan yang lebih besar dari kasus sekarang, misalnya kalau memang ini ujungnya pejabat pemerintahan, tentu kita akan dorong agar segera dilakukan penindakan," kata anggota Komisi III DPR Asrul Sani. 

Mengingat adanya indikasi keterlibatan pejabat negara, peran Pansus Pelindo II yang diniatkan mengawal penuntasan kasus yang ditangani Bareskrim Polri ini jadi perhatian. Kesamaan niat tersebut menjadi awal menjanjikan terlebih kasus ini dibuka oleh kegusaran Presiden Jokowi terhadap dwelling time yang terlalu lama.

Namun masyarakat mempertanyakan kesungguhan pansus. Adakah motif lain dari kalangan parlemen dari Pansus Pelindo II? Kemana arahnya nanti? Mungkinkah bernasib sama seperti Pansus Century yang dinilai sebagai drama politik semata?

Sesampainya kasus Pelindo II di ranah politik kelak, masyarakat harus ngotot mengawal DPR tak keluar rel. Jangan lagi gertak sambal yang ujungnya menyulap pansus menjadi barter politik. Jangan mengulang kelemahan Pansus Century terlebih menjadikannya panggung pencitraan anggota DPR.

Sudah saatnya DPR membuktikan niat baik yang dijanjikannya kepada masyarakat ketika masa kampanye Pemilu 2014. Memberantas korupsi. 

Sudah saatnya publik berpartisipasi mengawalnya. Sudah saatnya, Polri, KPK, Kejaksaan Agung berjalan seiring, menorehkan sejarah kerja sama pemberantasan korupsi di buku-buku sejarah generasi mendatang.

Ini bisa dilakukan bersama demi Indonesia lebih baik. Membebaskan Indonesia dari mafia listrik, pelabuhan, mafia bawang, mafia beras, mafia daging dan aneka rupa mafia yang selama ini selalu disebut-sebut sebagai biang kerok segala masalah. 
 


(LHE)