Komisaris Utama PT BBJ Dituntut 3 Tahun Penjara

Renatha Swasty    •    Rabu, 16 Sep 2015 17:59 WIB
kasus korupsi
Komisaris Utama PT BBJ Dituntut 3 Tahun Penjara
Hasan Widjaja. Foto: Hafidz Mubarak/Antara

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisaris Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) Hasan Widjaja dituntut hukuman tiga tahun penjara dan denda Rp250 juta subsider enam bulan kurungan. Jaksa Penuntut Umum pada KPK menilai Hasan terbukti memberikan uang pada mantan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Syahrul Raja Sempurnajaya sebesar Rp7 miliar.

"Supaya majelis hakim menyatakan terdakwa Hasan Widjaja telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa tiga tahun penjara denda Rp250 juta subsider enam bulan kurungan," kata Jaksa Haerudin saat membacakan tuntutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jalan  H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (16/9/2015).

Dalam uraiannya, Jaksa membeberkan, Hasan mengetahui sejak awal bahwa PT BBJ yang akan mendirikan PT Indokliring diminta memberikan saham pada Syahrul. Hal ini dilakukan supaya izin usaha lembaga kliring berjangka segera keluar.

Hasan kemudian mendatangi Syahrul di kantornya untuk menego supaya permintaan saham dialihkan menjadi uang sejumlah Rp7 miliar. "Terdakwa mengetahui, menyadari, dan menghendaki bahwa realisasi pemberian uang sejumlah Rp7 miliar oleh Moch Bihar Sakti Wibowo kepada Syahrul Raja Sempurnajaya selaku Kepala Bappebti adalah atas permintaan dan perintah dari terdakwa," beber Jaksa Haerudin.

Usai Syahrul dijadikan tersangka oleh KPK, kata Haerudin, terdakwa dan Sherman Rana Krishna mengumpulkan uang Rp7 miliar. Uang digunakan untuk menutupi pemberian yang pernah diberikan pada Syahrul menggunakan rekening PT Indokliring.

Hasan dinilai terbukti melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana

Ia diberatkan karena diduga korupsi di saat negara sedang giat-giatnya memberantas korupsi. Tindakannya adalah, melakukan negosiasi kesepakatan dengan Syahrul Raja Sempurnajaya untuk memberikan uang senilai Rp7 miliar. Lalu, dia pula yang memerintah terdakwa Bihar Skakti Wibowo menyiapkan uang sebesar Rp7 miliar untuk diberikan kepada Syahrul.

Selain itu, terdakwa bersama-sama Sherman merupakan inisiator untuk mengembalikan uang sejumlah Rp7 miliar ke rekening Indokliring. Tindakan itu guna menutupi seolah-olah uang tersebut tidak keluar dari PT Indokliring sehingga tidak ada pemberian terhadap Syahrul Raja Smpurnajaya dan terdakwa telah mengembalikan uang ke brankas PT Indokliring.

"Terdakwa merupakan peserta aktif dalam melakukan kejahatan. Terdakwa berpura-pura sakit permanen dengan menggunakan kursi roda padahal kenyataannya selama ini ditahanan rutan KPK terdakwa sehat seperti manusia biasa dan dapat melakukan kegiatan sehari-hari termasuk melakukan kegiatan olahraga tanpa memakai kursi roda," tambah Jaksa Haerudin.

Sementara diringankan karena terdakwa bersikap sopan selama di persidangan, terdakwa belum pernah dihukum dan terdakwa mengaku khilaf dan mengakui perbuatannya.


(KRI)