Kemenag akan Larang Jemaah Memasak di Kamar

   •    Jumat, 18 Sep 2015 10:04 WIB
haji 2015
Kemenag akan Larang Jemaah Memasak di Kamar
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Foto: MCH.

Metrotvnews.com, Mekkah: Kementerian Agama akan memperketat, bahkan ada kemungkinan melarang, jemaah haji memasak di dalam kamar. Aturan itu diberlakukan menyusul kebakaran di kamar 801 Hotel Sakkab Al Barakah, Aziziah (Sektor IV). Akibat kebakaran itu, sekitar 1000 jemaah penghuni hotel harus dievakuasi.

“Ke depan harus dibatasi dengan ketat bahkan kalau perlu ada larangan yang ketat untuk memasak di dalam kamar,” tegas Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan keterangan pers di Daker Mekkah, Kamis (17/9/2015) malam waktu Arab Saudi. Kebakaran di Hotel Sakkab terjadi sehari sebelumnya atau Rabu tengah malam.

Menurut Lukman, kebakaran terjadi  karena alat masak yang ditinggal oleh penghuni kamar dalam waktu yang cukup lama. Korsleting arus pendek terjadi dan menimbulkan kebakaran. Belajar dari kejadian ini, Lukman berharap jemaah menjadi paham bahwa memasak dengan alat listrik di dalam kamar bisa berpotensi kebakaran.

Menag mengaku sudah bertemu dengan pemilik hotel. Pihak hotel meminta Kementerian Agama mengimbau jemaah haji Indonesia agar tidak menggunakan alat masak listrik di kamar. Imbauan bahkan larangan akan diberikan.

Lukman sendiri bisa memaklumi jika ada sebagian jemaah yang masih memasak. Sebab, menurutnya, kondisi Mekkah sekarang berbeda dengan sebelumnya. “Untuk bisa mendapatkan makanan tidak semudah dulu. Kalau dulu mudah mendapatkan penjual makanan, sekarang sudah sulit ditemuinya,” ujar Lukman.

Perubahan itu terjadi setelah Pemerintah Saudi Arabia mengawasi lebih ketat para pedagang yang tidak berizin untuk menjual makanan siap saji. Sementara rumah makan yang ada sangat terbatas. Pemerintah pada tahun ini juga baru menyediakan makan sekali sehari, tepatnya pada makan siang. 

“Tahun depan harus dipikirkan bahwa penambahan pemberian makan, khususnya selama di Mekkah bagi setiap jemaah itu perlu ditingkatkan. Kalau tidak tiga kali tentu dua kali seperti di Madinah. Ini bagian yang harus kita pikirkan ke depan,” tandas Lukman. (mch)


(DOR)