Eksekutif Lebih Banyak Habiskan Anggaran daripada DPR

   •    Jumat, 18 Sep 2015 12:08 WIB
dpr ads
Eksekutif Lebih Banyak Habiskan Anggaran daripada DPR
Anggota DPR Bambang Haryo Soekartono

Metrotvnews.com, Jakarta: Anggaran tunjangan jabatan pejabat eksekutif, jauh lebih besar daripada anggota DPR. Belum lagi fasilitas yang diberikan, anggota DPR menerima jauh lebih sedikit daripada fasilitas jabatan yang diterima eksekutif.

"Lalu, mengapa publik dan media massa malah mem-bully tunjangan jabatan yang diterima Anggota DPR?," kata anggota DPR Bambang Haryo Soekartono di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (17/9/2015).

Menurut Bambang, selama ini tidak ada kesetaraan anggaran yang diterima tiga lembaga, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Dari ketiganya, legislatif menerima paling kecil.

"Bila menteri pergi ke daerah, ia membawa pejabat eselon I atau II. Saat berada di daerah, kepala daerah dipastikan berdatangan menyambut menteri. Itu saja sudah menghabiskan anggaran sangat besar, belum termasuk anggaran pengawalannya. Miliaran rupiah bisa dihabiskan dalam seminggu oleh seorang enteri bila ada kunjungan ke daerah atau luar negeri," ujar Bambang.

Bambang juga membandingkan ruangan menteri yang disebutnya sebagai pembantu presiden. "Mestinya menteri itu sejajar dengan tenaga ahli (TA) anggota DPR yang sama-sama pembantu. Anggaran menteri pun seharusnya sejajar dengan TA. Tapi kenyataannya, TA tidak punya kendaraan sedangkan menteri dapat kendaraan sedan crown yang nilainya melebihi Rp1 miliar,” ungkap politikus Gerindra ini.

Sedangkan fasilitas ruangan anggota DPR, lanjut Bambang, hanya 3x6 meter. "Sangat kecil bila dibandingkan dengan ruangan menteri yang notabene jabatannya di bawah anggota DPR," katanya.

Setiap ruangan anggota DPR ditempati enam orang, yaitu lima staf dan satu anggota DPR. Di Amerika, seorang senator memiliki lima staf yang ditempatkan di ruang masing-masing.

"Sekali-kali publik juga bisa melihat langsung ruang anggota DPR di Gedung Nusantara I. Sebagai pejabat negara, anggota DPR sejajar dengan presiden. Idealnya, gaji dan tunjangan jabatan yang diterima setara dengan presiden," papar Bambang.

Dengan fakta tersebut, terang Bambang, mestinya publik membuka mata betapa pemborosan terjadi di eksekutif. Ironisnya, fasilitas mobil yang diberikan kepada dirjen jauh lebih mewah daripada anggota DPR.

"Dirjen bisa menerima sedan Camry. Begitu juga dirut bank BUMN bisa menerima Mercedes Benz S Class 400. Tapi anggota DPR hanya diberikan Rp90 juta untuk beli mobil selama satu periode,” kilah politisi dari dapil Jatim I ini.

Tunjangan jabatan yang diterima presiden, sambung Bambang, jauh lebih heboh lagi bila dibanding anggota DPR. Ketika presiden berkunjung ke daerah, ada banyak menteri diajak. Belum lagi gubernur, bupati, dan wali kota yang ikut menyambut. Ditambah TNI/Polri sebagai petugas pengamanan.

“Berapa miliar yang dihabiskan? Mungkin bisa seratus miliar yang dihabiskan (dalam satu kali kunjungan). Itu dalam satu minggu bisa dua kali,” imbuh Bambang lagi.

Bambang meminta publik dan media massa adil dalam menilai, mana yang lebih besar menghabiskan anggaran negara. Bila DPR menuntut tambahan anggaran tunjangan jabatan, itu sangat logis dan realistis.

“Mari kita buka berapa anggaran pemerintah untuk pergi ke luar negeri. Di kementerian dalam satu bulan bisa lebih dari 10 kali ke luar negeri. Presiden dalam seminggu bisa dua kali ke luar kota maupun luar negeri. Bila presiden datang ke daerah, berapa ribu tentara dan polisi yang mengamankan? Bisa 3000 personil. Kalau anggaran Rp100 ribu saja untuk akomodasi di sana, maka akan ketemu Rp3 miliar,” ungkap anggota Komisi VI DPR ini.


(NIN)