PK Ditolak, Hotasi Nababan Curhat Lewat Buku

Roni Kurniawan    •    Jumat, 18 Sep 2015 22:39 WIB
kasus korupsi
PK Ditolak, Hotasi Nababan Curhat Lewat Buku
Suasana bedah buku "Hukum Tanpa Takaran" karya Hotasi Nababan, di Kampus Filsafat Unpar, Bandung. Foto: MTVN/Roni

Metrotvnews.com, Bandung: Mantan Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) Hotasi D.P. Nababan menumpahkan kekecewaan lewat buku setelah usaha Peninjauan Kembali (PK) yang diajukannya, pada 4 September 2015, dalam kasus penyewaan pesawat PT Merpati Nusantara Airlines ke perusahaan Amerika Serikat di 2006, ditolak.

Hotasi mencurahkan semua peristiwa tersebut ke dalam sebuah buku berjudul Hukum Tanpa Takaran, di balik jeruji Lapas Sukamiskin, Bandung. Menurut kuasa hukum Hotasi Nababan, Jansen Sitindaon, kliennya saat ini begitu kecewa dan terkejut serta merasa harapan akan kejujuran demi kebebasan telah hilang dengan adanya penolakan PK tersebut.

Hotasi, masih menurut Jansen, menilai ada kejanggalan saat MA membuat keputusan. Hakim hanya membaca dan mempelajari berkas perkara Hotasi dalam beberapa jam.

"Perkara yang dialami tidak layak dikategorikan dalam perkara korupsi. Perkara itu sudah diperiksa secara kompherensif selama kurang lebih delapan bulan di Pengadilan Tipikor Jakarta yang terbuka untuk umum. Publik luar bisa hadir untuk mengikuti jalannya persidangan. Sedangkan perkara di tingkat MA, baik itu di tingkat kasasi maupun di tingkat PK, prosesnya sama sekali kita tidak tahu," ujar Jansen, ditemui di sela-sela bedah buku Hukum Tanpa Takaran, di Kampus Filsafat Universitas Parahyangan, Jalan Nias, Kota Bandung, Jumat (18/9/2015).

Diakuinya, untuk menyikapi keputusan tersebut Hotasi akan terus melawan guna mencari keadilan dan kembali menempuh upaya hukum secara formil. Karena dengan penolakan PK itu, lanjut Jansen, kliennya sudah merasa kehilangan segalanya.

"Sampai hari ini sikap kita melawan keputusan ini. Kita akan menempuh upaya hukum formil, mungkin di perkara ini kita akan mengaktifkan perkara PK boleh berkali-kali, bagaimana putusan MA terhadap pak Antasari dalam perkara ini kalau kita bicara formil," katanya.

Kalau bicara informilnya, lanjut Jansen, Hotasi akan tetap melawan walaupun di dalam penjara. "Dia akan tetap menjadi rajawali, bukan burung beo. Jadi, kalau hari ini dia menghasilkan buku di balik penjara, ke depan akan melahirkan buku-buku lainnya yang persis sama. Dia ingin berusaha mencari keadilan dalam perkara ini," ujarnya.

Pada 4 September lalu Majelis Peninjauan Kembali Mahkamah Agung menolak novum atau bukti baru yang diajukan Hotasi Nababan dalam kasus penyewaan pesawat PT Merpati Nusantara Airlines ke perusahaan Amerika Serikat. Majelis justru menghukum Hotasi 4 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider enam bulan penjara. Keputusan diketok langsung Hakim Agung Artidjo Alkostar.


(UWA)