Ini Alasan Pemerintah Ambil Utang

Suci Sedya Utami    •    Senin, 21 Sep 2015 13:15 WIB
utang luar negeri
Ini Alasan Pemerintah Ambil Utang
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah telah menetapkan nominal belanja yang luar biasa hingga ribuan triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, untuk membiayai belanja tersebut tentu harus ada sumber pendapatan yang besar pula.

Untuk itulah pemerintah juga mematok target penerimaan pajak dengan jumlah yang besar. Namun, Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro tidak menampik dengan target pajak yang ditetapkan tinggi pun ternyata tidak mudah direalisasikan.

Pasalnya, jelas Menkeu Bambang, banyak pihak yang tidak setuju dengan keputusan tersebut. Bahkan, banyak dari kalangan usaha keberatan dengan target pajak yang begitu tinggi itu karena dinilai memberatkan.

"Mereka bilang pajak harus mendukung pengusaha. Kalau di matematika ada yang namanya identitas. Kalau belanja besar dan penerimaan di tahan maka ada selisih," kata Bambang, di sela-sela acara penerbitan ORI012, di Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta Pusat, Senin (21/9/2015).

Selisih inilah yang disebut sebagai defisit anggaran. Lalu, cara selanjutnya yang biasa digunakan untuk menutupi kebutuhan belanja jika target penerimaan pajak dirasa memberatkan yakni memperbesar pembiayaan.

Namun ternyata, jelas Bambang, memperbesar pembiayaan pun menjadi dilema. Karena memperbesar pembiayaan merupakan kata lain dari memperbesar utang baik melalui penerbitan surat berharga negara maupun pinjaman bilateral dan multilateral.

"Alih-alih belum apa-apa, banyak orang bilang jangan banyak ngutang," ujar dia.

Namun demikian, Bambang menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir akan utang yang dilakukan pemerintah. Sebab, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau debt to GDP ratio Indonesia masih ada pada level 25 persen.

"Ini perlu dijelaskan ke masyarakat kita masih bangga dengan debt to GDP ratio 25 persen," pungkasnya.


(ABD)