Keselamatan Berkendara

Pengemudi Usia Remaja Cenderung Ugal-ugalan

M. Bagus Rachmanto    •    Selasa, 22 Sep 2015 10:11 WIB
keselamatan berkendara
Pengemudi Usia Remaja Cenderung Ugal-ugalan
Pengemudi usia remaja cenderung ugal-ugalan. Autoguide

Metrotvnews.com, Jakarta: Menginjak usia 17 tahun merupakan saat yang ditunggu-tunggu bagi para remaja. Karena usia tersebut merupakan batasan seseorang dianggap dewasa dan bisa mempertanggung jawabkan segala sesuatunya sendiri. Salah satunya adalah, di usia 17 tahun para remaja sudah diperbolehkan punya Surat Izin Mengemudi (SIM) secara legal. Akan tetapi yang sangat disayangkan, banyaknya kecelakaan lalu lintas yang disebabkan pengemudi usia remaja.   
 
153 ribu korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas (lalin) di Asia Tenggara tahun lalumembuat kita bertanya-tanya, Apakah aman menyerahkan kemudi kepada kaum remaja di jalanan kota yang semrawut? Carmudi platform jual beli kendaraan online teraman, menganalisa data terkini kecelakaan lalu lintas dan kaitannya dengan perkembangan pertumbuhan otak remaja untuk menjawab kekhawatiran tersebut.
 
Data dari World Banks menunjukkan bahwa 85 persen kecelakaan di seluruh dunia terjadi di negara berkembang, dan 50 persen diataranya terjadi di negara-negara Asia Pasifik. Indonesia menduduki peringkat kelima, setelah Tiongkok, India, Afghanistan, dan Nigeria yang menjadi penyumbang korban jiwa terbanyak di seluruh dunia pada 2014 lalu, 28 ribu korban meninggal dari total 95.247 kejadian kecelakaan lalu lintas (lalin), atau 72 orang meninggal per hari.
 
Mayoritas kecelakaan lalin di Indonesia melibatkan sepeda motor yang banyak terjadi di pulau Jawa, dan 81 persen akibat dari faktor kesalahan manusia. Hal yang perlu dicermati dari data ini ialah, mayoritas korban kecelakaan lalin merupakan pengemudi berusia 15 sampai 35 tahun.
 
Pengendara remaja seringkali terlibat dalam kecelakaan-kecelakaan lalin yang fatal. Hal ini terlihat dari fakta lain yang menyebutkan, kecelakaan yang berujung pada kematian yang diakibatkan oleh remaja usia 16 tahun hampir dua kali lipat lebih banyak , daripada yang diakibatkan oleh remaja usia 18-19 tahun, bahkan tiga kali lebih sering bila dibandingkan yang diakibatkan pengemudi yang berusia di atas 20 tahun.
 
Mengemudi secara sembrono dan remaja memang berkaitan erat. Berdasarkan riset yang dilaksanakan oleh National Institute of Health (NIH), ditemukan hal yang menarik bahwa ternyata ada bagian dalam otak yang berhubungan dengan kemampuan untuk mengukur risiko dan mengontrol perilaku impulsif, bagian tersebut baru akan sepenuhnya berkembang ketika seseorang telah mencapai usia 25 tahun.
 
Nuccleus accumbens yang terkait dengan kesenangan, berkembang mulai dari masa kanak-kanak, mencapai batas maksimum ketika di usia remaja, dan kemudian menyusut. Bagian ini, dikombinasikan dengan lonjakan reseptor dopamine yang berfungsi untuk menangkap sinyal rasa senang, membuat remaja merasakan keinginan yang meledak-ledak.

Pada otak remaja, hal ini membuat remaja merasakan kesenangan yang tak terkontrol, seringkali membuat mereka melupakan risiko yang terjadi atas perilaku yang mereka lakukan. Hal tersebut bila dikaitkan dengan perilaku mengemudi membuat remaja lebih mungkin untuk terlibat dalam kasus kecelakaan, karena remaja sering melakukan kegiatan yang berisiko tinggi.
 
Hal yang paling sering ditemui dalam keseharian adalah mengemudi sambil membaca dan menulis pesan di telepon seluler. Studi mencatat bila seorang remaja telah mengemudi secara reguler dalam jangka waktu 6 bulan, remaja tersebut akan dua kali lebih sering mengemudi sambil melakukan aktivitas lain yang berisiko dibandingkan orang dewasa. Menulis atau membaca pesan, mengemudi sambil menelepon dan bahkan bermain game seringkali dilakukan remaja ketika mengemudi apalagi bila jalanan macet, sehingga hal ini meningkatkan kemungkinan kecelakaan terjadi pada remaja.
 
“Melarang remaja mengemudi bukanlah jalan keluar untuk mengurangi jumlah kecelakaan lalin. Orang tua memegang peranan sangat penting dalam mengedukasi remaja agar mengemudi secara benar. Selain menghindari remaja mengemudi kendaraan yang tidak layak jalan dan memberikan pemahaman tentang pentingnya penggunaan sabuk pengaman dan tidak mengemudi sambil menulis pesan pada telepon seluler,” jelas Wouter van der Kolk, Managing Director Carmudi Indonesia.
 
“Orang tua harus introspeksi diri sendiri apakah kebiasaan berkendara para orang tua sudah aman. Apakah Ayah memakai sabuk pengaman? Apakah Ibu menelepon sambil mengemudi? Hal-hal kecil ini seringkali luput dari pengamatan kita bahwa anak-anak sedari kecil mengamati dan mengikuti perilaku orang tua dan tertanam dalam pikiran bawah sadar mereka hingga berefek ketika mereka remaja dan sudah dewasa,” tutup Wouter.
 
(UDA)