Renovasi Rumah Adik Tiri Sultan HB X Habiskan Danais Rp1,6 M

Patricia Vicka    •    Selasa, 22 Sep 2015 12:28 WIB
keraton yogyakarta
Renovasi Rumah Adik Tiri Sultan HB X Habiskan Danais Rp1,6 M
Dalem Yudhaningratan di Yogyakarta. (Ist)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan segera merehabilitasi bangunan cagar budaya keluarga Keraton Yogyakarta yakni Dalem Yudhanegaran. 

Dalem Yudhanegaran yang dibangun pada zaman Hamengku Buwono VII, kini ditempati adik tiri Sultan HB X, yakni Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Yudhaningrat.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Umar Priyono mengatakan perbaikan dilakukan mengingat kondisi bangunan bersejarah tersebut sudah rusak. Perbaikan ini akan menggunakan Dana Keistimewaan (Danais) sebesar Rp1,6 miliar.

Umar mengatakan, perbaikan Dalem Yudhanegaran akan dilakukan bersamaan dengan perbaikan perkapalan (pendopo-pendopo kecil) di sisi timur dan sisi barat Alun-alun Utara, serta rehabilitasi dua bangunan Masjid Pathok Negoro.

"Tidak semua rumah keluarga keraton perlu direnovasi. Saya lihat Dalem Yudhanegaran sudah rusak terutama di bagian dalem ageng yang terletak di belakang kompleks Dalem Yudhanegaran. Sehingga mendesak untuk diperbaiki," tutur Umar di Yogyakarta, ditulis Selasa (22/9/2015).

Danais sudah menganggarkan biaya perbaikan cagar-cagar budaya yang ada di Yogyakarta. "Biayanya cukup, malah karena rumah ini menggunakan arsitektur gantung yang banyak kayu-kayunya," jelasnya.

Sementara itu, GBPH Yudhaningrat mengatakan Dalem Yudhanegaran yang terletak sekitar 500 meter dari Keraton Yogyakarta, tepatnya di Jalan Ibu Rarwo, sudah seharusnya diperbaiki. 

"Ini bangunan sudah tua sekali umurnya. Waktu pertama saya tinggali atapnya sudah ambles (jebol) hingga bisa melihat langit. Luas bangunan yang akan direhab sekitar 40 x 60 meter persegi. Saya pernah renovasi sebagian di tahun 1992," tutur GBPH Yudhaningrat di Yogyakarta.

Pangeran yang akrab disapa Gusti Yudha ini mengatakan bangunan bersejarah ini pernah dipakai sebagai tempat kuliah Fakultas Sastra UGM. 

"Anggaran Rp1,6 miliar akan dipakai untuk mengganti tembok, tiang, atap kayu dan belandar kayu yang sudah lapuk. Kalau sudah diperbaikai akan saya pakai untuk memajukan pengembangan kesenian keraton," tutupnya.


(SAN)