Dirikan LBH, Perjuangan Adnan Buyung Menembus Tirani Soeharto

Fauzan Hilal    •    Rabu, 23 Sep 2015 12:35 WIB
adnan buyung nasution meninggal
Dirikan LBH, Perjuangan Adnan Buyung Menembus Tirani Soeharto
Adnan Buyung Nasution. (Foto:Antara/Andika Wahyu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Adnan Buyung Nasution dikenal sebagai aktivis hukum yang membela rakyat kecil. Sikap kerasnya membuat pemerintahan yang berkuasa saat itu gerah. Demi membela orang-orang kecil yang buta hukum, Adnan nekat membangun Lembaga Bantuan Hukum (LBH).

Soal pendirian LBH Buyung punya cerita menarik. Ketika ia menjadi jaksa dan bersidang di daerah-daerah terpencil, ia melihat orang-orang yang menjadi terdakwa pasrah menerima dakwaan yang ditimpakan kepadanya. Dari sana ia berpikir, orang-orang kecil yang buta hukum itu perlu dibantu.
 
"Bagaimana kita mau menegakkan hukum dan keadilan kalau posisinya tidak seimbang. Di situ saya berpikir, harus ada orang yang membela mereka," katanya Buyung dikutip dari http://www.tokohindonesia.com.
 
Tetapi niat itu dipendamnya. Saat kuliah di Universitas Melbourne, Australia, ia melihat ada Lembaga Bantuan Hukum. Ia sadar, bantuan hukum itu ada pola, model, dan bentuknya. Pada 1969, Buyung kembali ke Indonesia. Ia menyampaikan ide pembuatan LBH kepada Kepala Kejaksaan Agung Soeprapto.

Soeprapto memang memuji ide itu, tetapi menganggap belum waktunya diwujudkan. Buyung menyadari saat itu memang belum mendukung gagasan tersebut.
 
Ia baru bisa merealisaskani idenya membentuk LBH setelah keluar dari Kejaksaan. Gagasan itu dilontarkan kepada Profesor Sumitro dan Mochtar Lubis. Rupanya, Sumitro dan Mochtar mendukung ide itu.
 
Sumitro menyarankan Buyung membuka kantor advokat. Tetapi sebelum Sumitro sempat membantu, dia keburu diangkat sebagai Menteri perdagangan.
 
Selanjutnya, Buyung yang izin praktek advokatnya sempat dicabut itu menemui Menteri Kehakiman Prof. Oemar Seno Adjie untuk mengkonsultasikan ide itu. Seno menyarankan Buyung jadi advokat supaya punya legalitas.
 
Tanpa proses yang rumit, Buyung pun mendapatkan izin advokat, dan membuka kantor law firm. Ia juga mengajak beberapa temannya menjadi staf, seperti Nono Anwar Makarim, Mari'e Muhammad (bekas Menteri Keuangan).
 
Buyung mulai menyiapkan pendirian LBH. Ia melakukan pendekatan dengan sejumlah advokat untuk mensosialisasi ide itu. Buyung tidak mau ada ganjalan untuk mewujudkan gagasannya. Soalnya, menurut Buyung, di beberapa negara, LBH dimusuhi oleh para advokat. Tetapi syukur, ia tidak punya ganjalan apa-apa. Peserta Kongres Peradin (Persatuan Advokat Indonesia), terutama Yap Thiam Hien dan Lukman Wiryadinata (bekas Menteri Kehakiman), mendukung penuh gagasan itu.
 
Buyung juga melakukan pendekatan dengan pemerintah. Ia menemui Ali Moertopo yang waktu itu menjadi asisten pribadi Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988) Presiden Soeharto dan menjelaskan ide itu seraya meminta ide itu disampaikan kepada Presiden, apakah presiden setuju atau tidak.
 
Rupanya tak lama, ia dipanggil dan mendapat kabar bahwa Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988) Soeharto setuju dengan gagasan itu. Malah, ketika pembukaan LBH, ia mendapat 10 skuter dari pemerintah.
 
Selain pemerintah pusat, Buyung juga mendekati pemerintah daerah DKI Jakarta. Ia menemui Gubernur DKI Jakarta (1966-1977) Ali Sadikin yang waktu itu menjadi gubernur. Rupanya, Ali juga satu suara dengan yang lain. Bahkan, yang mendukung bukan Ali sebagai pribadi, tetapi pemerintah daerah DKI Jakarta. Karena dukungan-dukungan itu, kemudian lahirlah LBH tanggal 28 Oktober 1970. Buyung pun tampil sebagai pemimpin LBH pertama kali.

Kini pengacara hukum itu telah tiada. Adnan Buyung Nasution meninggal di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu, 23 September, pukul 10.15 WIB. Dia meninggal setelah setelah dirawat hampir lima hari. Buyung sebelumnya mengeluh sakit pada giginya. Adnan juga punya masalah di ginjal dan jantungnya.

Adnan Buyung dikenal sebagai pengacara kondang dan senior. Selain itu, dia juga tercatat aktif pada kegiatan politik di Indonesia. Adnan Buyung Nasution juga dikenal sosok pendiri dan Ketua Gerakan Pelaksana Ampera dan sebagai anggota Komando Aksi penggayangan Gestapu.
 


(FZN)

MKD Tunda Pembahasan Nasib Novanto di DPR

MKD Tunda Pembahasan Nasib Novanto di DPR

6 hours Ago

Salah satu yang akan dibahas dalam rapat MKD itu adalah status Setya Novanto sebagai kasus koru…

BERITA LAINNYA