Rupiah Jeblok, Reaksi Pasar Atas Asumsi Nilai Tukar

Ade Hapsari Lestarini    •    Kamis, 24 Sep 2015 09:58 WIB
rupiah melemah
Rupiah Jeblok, Reaksi Pasar Atas Asumsi Nilai Tukar
Ilustrasi. FOTO: ANTARA/Yudhi Mahatma

Metrotvnews.com, Jakarta: Mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat melampaui Rp14.700 per USD. Volatilitas nilai tukar rupiah ini menunjukkan reaksi pasar yang negatif terhadap patokan nilai tukar rupiah sebesar Rp13.900 per USD.

Seperti diketahui, pelemahan rupiah tersebut terjadi usai Pemerintah bersama DPR menetapkan angka nilai tukar rupiah sebesar Rp13.900 per USD pada indikator asumsi makroekonomi di RAPBN 2016.

"Hal ini sekaligus bukti kegagalan Bank Indonesia (BI) membangun kepercayaan para pelaku pasar. Respons pasar yang negatif terhadap BI ini, risikonya harus diterima oleh seluruh bangsa Indonesia karena nilai rupiah sudah undervalued," tegas Anggota Komisi XI DPR RI, M Misbakhun, dalam siaran persnya, di Jakarta, Kamis (24/9/2015).

Dia menjelaskan, industri di Indonesia banyak ditopang oleh bahan baku dari impor, yang dibeli dengan USD. Maka, dengan BI tak bisa menjaga kurs rupiah terhadap USD, maka tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi juga akan makin berat pada 2016 nanti.

Misbakhun pun selalu mengingatkan kepada BI untuk lebih rasional, lebih cermat, dan lebih realistis dalam menetapkan angka nilai tukar rupiah itu. Diharapkan angka patokan tersebut bisa diterima pasar dan membangun kepercayaan pasar dan dunia usaha.

"Ternyata angka patokan rupiah yang dibuat BI direspons negatif oleh pasar sehingga nilai rupiah makin terpuruk," tegas Sekretaris Panja Penerimaan Negara DPR RI tersebut.

Dia menilai instrumen kebijakan moneter BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sangat konvensional, feodal, tidak transparan, dan dijalankan tanpa menerapkan prinsip governance.

"Jadi sangat wajar apabila BI gagal menjalankan tugas utamanya untuk menjaga stabilitas nilai rupiah," kata dia.

Diapun mendesak Pimpinan DPR RI untuk segera menyurati Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) agar mengaudit atas kebijakan moneter BI dalam menjaga nilai tukar rupiah. Baginya, audit investigatif BPK atas BI patut dilaksanakan demi mengetahui kesungguhan BI mengawal sektor moneter Indonesia, plus menyelidiki kemungkinan conflict of interest di internal BI.

"Saya sangat khawatir cadangan devisa kita akan habis digunakan oleh BI hanya untuk mengintervensi pasar tapi tidak membuahkan hasil apapun. Rupiah makin terpuruk. Cadangan devisa negara tergerus. Tapi pendapatan BI dari valas makin bertambah dan bertumpuk. Sebuah ironi yang harus disadari oleh seluruh elemen bangsa," paparnya.


(AHL)

Ganjar Pranowo Bantah Tudingan Nazaruddin

Ganjar Pranowo Bantah Tudingan Nazaruddin

1 hour Ago

Nama Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo disebut-sebut sebagai salah satu orang yang menerima …

BERITA LAINNYA