Menaker Hanif: Jangan Cuma Andalkan Ijazah

Pelangi Karismakristi    •    Jumat, 25 Sep 2015 19:56 WIB
kemenaker ads
Menaker Hanif: Jangan Cuma Andalkan Ijazah
Menaker Hanif Dhakiri pada saat menyaksikan penandatanganan memorandum of understanding (MOU) penyaluran kerja lulusan SMK/MA Maarif se-Kebumen--Foto: Kemenaker

Metrotvnews.com, Jakarta: Para pelajar sekolah menengah atas (SMA/SMK) maupun perguruan tinggi perlu membekali dirinya dengan sertifikasi dan kemampuan kerja. Hal ini menjadi sebuah 'keharusan, agar bisa bersaing dalam era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akhir tahun 2015 ini.

Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri mengatakan, kehadiran MEA menjadi tanda semakin terbuka dan bebasnya mobilitas pasar kerja di kawasan ASEAN. Tentunya, MEA akan membuka peluang sekaligus persaingan kerja yang semakin ketat antar negara. Menurutnya, syarat pendidikan formal memang penting, tapi kompetensi kini lebih diutamakan ketimbang gelar, sehingga yang diperlukan sekarang adalah insan yang berpengalaman dan punya keahlian.  

"Selain itu, lulus uji kompetensi dan mendapat sertifikat kompetensi. Inilah yang bisa masuk di pasar kerja internasional," ujar Hanif pada saat menyaksikan penandatanganan memorandum of understanding (MOU) penyaluran kerja lulusan SMK/MA Maarif se-Kebumen di SMK Maarif 1 Kebumen, Jawa Tengah, Rabu (23/9/2015) petang.

SDM yang baik sangat berpengaruh dalam MEA, maka dari itu Hanif mengharapkan angkatan kerja berlatar belakang pendidikan formal tinggi atau setidaknya SMA berpeluang sama dengan lulusan SD atau SMP yang dibekali sertifikasi dan kompetensi untuk memasuki dunia kerja. Sebab menurut Hanif, selama ini banyak lulusan SD, SMP,SMA/SMK dan perguruan tinggi yang masih berusia produktif namun kesulitan memasuki pasar kerja.

"Karena itu harus dilengkapi dengan kompetensi dan keterampilan kerja sehingga siap terserap pasar kerja dengan lebih cepat. Jangan terlalu mengandalkan ijazah," tegas Menaker.

MEA yang diharapkan menjadi pasar kerja industri ini juga tidak terlalu mensyaratkan pendidikan formal, "Mereka lebih mempertimbangkan calon tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan keterampilan kerja sesuai kebutuhan," pungkas Hanif.  


(LHE)