Industri Rokok Lesu, Beri Saja Relaksasi Pungutan Cukai

Suci Sedya Utami    •    Sabtu, 26 Sep 2015 10:54 WIB
rokok
Industri Rokok Lesu, Beri Saja Relaksasi Pungutan Cukai
Ilustrasi -- FOTO: MI/RAMDANI

Metrotvnews.com, Jakarta: Di tengah gejolak ekonomi yang mendera Indonesia, Pemerintah menargetkan kenaikan cukai rokok dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2016 sebesar 23,5 persen menjadi Rp148,85 triliun.

Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Golkar, Misbakhun menilai kenaikan bidikan cukai yang tinggi ini dirasa mencekik industri rokok nasional sehingga membuat pertumbuhan industri tersebut akan mengalami penyusutan pertumbuhan.

"Target cukai rokok naik 23 persen, itu memberi kontraksi negatif untuk para pengusaha," kata Misbakhun dalam diskusi bertajuk 'Berjalan di Titian Pendapatan dan Belanja', di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2015).

Apalagi, ujar Misbakun, tahun-tahun belakangan ini pertama kalinya industri rokok nasional mengalami penurunan baik dari segi nilai maupun volumenya. Di tambah lagi, banyaknya perusahaan rokok dan tembakau yang gulung tikar dan memberhentikan pekerjannya (PHK).

Untuk itu, dalam situasi seperti sekarang, menurut dia, perlu diberikan insentif pada industri rokok, yakni dengan melakukan relaksasi terhadap kebijakan pungutan cukai.

"Berupa pengurangan intensitas pengejaran cukai, atau cekikan cukainya dikurangilah," ujar dia.

Lebih lanjut, Komisi XI DPR nantinya akan melakukan koreksi terhadap target yang diusulkan pemerintah. Misbakhun menambahkan, nantinya koreksi target tersebut akan dibuat berdasarkan realisasi tahun ini, bukan dari target tahun ini.

"Kemungkinan akan kita koreksi, enggak jauh dari realisasi. Jadi bukan base on target, tapi base on realisasi. Tapi tentu harus juga memikirkan bagaimana risiko fiskal utamanya terhadap keberlanjutan belanja jika target penerimaan dipangkas," jelas dia.


(AHL)