Selamatkan Manusia dari Kepungan Asap

   •    Selasa, 29 Sep 2015 05:52 WIB
kabut asap
Selamatkan Manusia dari Kepungan Asap

BENCANA asap telah memasuki bulan ketiga. Jutaan penduduk di sejumlah daerah di Sumatra, Kalimantan, dan bahkan sampai ke negeri jiran masih dalam kungkungan asap pekat.

Kualitas udara kian memburuk hingga sampai ke tingkat yang sangat berbahaya. Sejumlah kota seumpama Palangkaraya, Pontianak, Pekanbaru, dan Jambi bisa dikatakan tak layak huni.

Itu terjadi selama berminggu-minggu. Penyakit infeksi saluran pernapasan atas sudah menjadi penderitaan sehari-hari. Penduduk tidak bisa bebas keluar rumah. Asap betul-betul telah membawa sengsara.

Sesungguhnya tidak ada yang tahan menjalani hidup seperti itu, terus-menerus tersiksa asap. Keluarga yang berpunya atau memiliki kerabat di daerah lain secara sporadis mulai mengungsi.

Tidak demikian penduduk yang tergolong kurang mampu atau tidak mempunyai tujuan untuk menumpang tinggal. Mereka hanya bisa pasrah, berharap asap segera pudar. Akan tetapi, asap pekat mulai merusak saluran penapasan.

Kita mengapresiasi upaya pemerintah dalam memadamkan kebakaran lahan dan hutan.  Penegak hukum juga terus memburu para pembakar lahan.

Di sisi lain, kita juga perlu mengingatkan ada batasan tertentu manusia bisa bertahan dalam kepungan asap. Jangan paksa penduduk menjalani kesengsaraan akibat asap itu sampai titik nadir.

Tindakan cepat untuk menyelamatkan penduduk di wilayah yang terkena dampak asap terparah sudah sangat mendesak. Jika memang kualitas udara sudah berbahaya, apalagi sampai berminggu-minggu, evakuasi skala besar dengan koordinasi langsung dari pusat layak dipertimbangkan. Tujuannya ialah menyelamatkan manusia.

Keputusan evakuasi tentu saja tidak hanya diikuti rencana lokasi penempatan penduduk, tetapi juga pemenuhan kebutuhan mereka. Anak-anak usia sekolah tidak boleh lagi terus diliburkan. Buat mekanisme agar anak-anak bisa langsung bersekolah di lingkungan sekitar penampungan.

Tepikan dulu ego wilayah dan ego sektoral.

Tambah petugas kesehatan. Pemadaman kebakaran pun membutuhkan semangat yang sama. Buka pintu selebar-lebarnya untuk siapa pun, termasuk pihak asing, yang ingin membantu.

Untuk jangka panjang, aturan yang bisa mencegah kebakaran lahan dalam skala luas harus ditegakkan. Hapus aturan yang mengganjal, seperti Pasal 69 ayat (2) Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ayat tersebut memberikan izin pembakaran lahan seluas 2 hektare per kepala keluarga dengan mengatasnamakan kearifan lokal.

Tidak ada kearifan dalam pembakaran lahan yang berpotensi merusak habitat manusia dan satwa. Pembakaran lahan harus sepenuhnya dilarang untuk alasan apa pun.

Langkah pencegahan berlanjut pada penanganan bencana asap. Cari cara permanen yang bisa menjadi prosedur tetap memadamkan kebakaran lahan atau hutan secara cepat dan efektif.

Dari pembangunan kanal-kanal, pembuatan sumur-sumur dalam, sampai dengan penyiapan armada helikopter yang memadai merupakan beberapa ide yang bisa diwujudkan.

Libatkan perusahaan selaku pengguna dan pengelola lahan. Semua menuju satu sasaran; jangan sampai bencana asap kembali terulang.


Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

1 week Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA