Penegak Hukum Dituding Lalai Tangani Kasus Pembantaian Petani Salim Kancil

Amaluddin    •    Selasa, 29 Sep 2015 13:32 WIB
salim kancil
Penegak Hukum Dituding Lalai Tangani Kasus Pembantaian Petani Salim Kancil
Foto: Ilustrasi unjuk rasa mengecam pembantaian petani di Lumajang, Jawa Timur/Ant_Ari Bowo Sucipto

Metrotvnews.com, Surabaya: Unjuk rasa mengutuk aksi pembantaian petani di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, bergulir. Sejumlah aktivis dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) menuding penegak hukum lalai dalam kasus ini.

Sejumlah aktivis dari Serikat Petani Indonesia (SPI), Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Aliansi Petani Indonesia (API),‎ dan Sekber Lingkar Studi Gerakan Petani Jawa Timur, itu mendesak pemerintah dan lembaga penegak hukum segera mengusut kasus pembantaian terhadap aktivis Petani Antitambang Salim alias Kancil dan Tosan. Salim Kancil tewas setelah sekelompok orang menganiaya dan menggergaji lehernya, pada 26 September 2015.

Baca: Gambar Profil untuk Dukung Salim Kancil

Aktivis tani yang tergabung Aliansi Tani Jawa Timur (Alit Jati), itu menilai kasus ini merupakan kulminasi dari sikap penegak hukum dan pemerintah setempat yang membiarkan penambangan pasir ilegal di pesisir pantai selatan di Kabupaten Lumajang.  

"Akibatnya, terjadi pembantaian sadis terhadap Salim Kancil dan Tosan yang berujung menjadi 'Tambang Berdarah," kata salah seorang aktivis SPI Jawa Timur Basuki, di Surabaya, Jawa Timur, Senin (28/9/2015).

Berdasarkan investigasi sejumlah serikat tani dan KontraS Surabaya menemukan penambangan pasir di Kabupaten Lumajang itu ilegal.

"Namun menurut keterangan warga, biasanya penambangan ilegal ini dikuasai oleh oknum petinggi desa setempat dan mengkoordinasikan warga yang berpihak pada penambang pasir," kata Basuki.

Namun, aksi sekelompok petani yang menolak penambangan pasir ilegal itu dikecam. Konflik pun tak dapat dihindari.

Baca: Ini Kisah Salim Kancil yang Tewas Setelah Lehernya Digergaji

"Ujung-ujungnya terjadi penculikan, pembunuhan yang didahului dengan penyiksaan sadis terhadap dua orang aktivis petani yang ingin mempertahankan kawasan pesisir pantai demi melindungi lahan pertanian," ujar dia.

"Kami mengutuk keras atas pembunuhan petani dan menuntut kepada aparat penegak hukum agar segera mengusut tuntas secara transparan siapa aktor intelektual di balik pembunuhan petani yang menolak tambang pasir tersebut," kata Aktivis KPA Jawa Timur Ubed dalam kesempatan yang sama.  

Alit Jati mengancam akan menggalang massa lebih besar apabila tuntutan mereka tak digubris. "Bila perlu kita akan lakukan turun jalan dengan jumlah massa yang lebih besar," ujar Ubed. ‎


(TTD)