Saksi Sebut SDA Minta Ubah Data Dana DOM ke Anak Buah

Renatha Swasty    •    Rabu, 30 Sep 2015 20:30 WIB
kpksuryadharma ali
Saksi Sebut SDA Minta Ubah Data Dana DOM ke Anak Buah
Terdakwa kasus dugaan korupsi dalam penyelengaraan ibadah haji di Kementerian Agama dan penyelewengan Dana Operasional Menteri (DOM) Suryadharma Ali (kedua kiri) menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (30/9/2015). Foto: M Agung Raj

Metrotvnews.com, Jakarta: Staf TU Biro Umum di Kementerian Agama Andri Alpen mengaku bekas Menteri Agama Suryadharma Ali sempat marah saat tahu pengobatan istrinya dibiayai Dana Operasional Menteri (DOM). Ia sempat meminta anak buah yang mengurus data untuk mengubah tanggal.

Hal ini terungkap dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Andri yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum pada KPK. Di BAP disebut, Andri, Rosandi, Bendahara DOM, dan Nurfahmi, staf biro umum datang ke rumah Suryadharma. Ketiganya memberikan data temuan KPK.

"Bahwa pernah pada satu malam saya menemani Rosandi menghadap Suryadharma Ali terkait dengan revisi data DOM dalam rangka pengeluaran DOM yang berisi biaya pengobatan Wardatul Asriyah (istri SDA), betul?" tanya Jaksa

"Betul," Jawab Andri.

Suryadharma marah karena tindakannya menggunakan DOM terbongkar KPK. Ketika dicecar perihal pengubahan data itu, Andri menjelaskan Suryadharma meminta supaya tanggal pengobatan istrinya dibuat mundur. Tapi, permintaan itu tak disanggupi para stafnya.

"Rosandi enggak mau, karena kata dia enggak bisa," tambah dia.

Tak cuma itu, Suryadharma juga sempat marah saat tahu pembuatan paspor cucunya menggunakan biaya DOM. Mantan Ketua Umum PPP itu bahkan sempat menggebrak meja.

"Sehabis baca itu, bapak gebrak meja, marah," ujar dia.

Dalam dakwaan diketahui Suryadharma selaku Menteri berhak mendapat DOM yang bersumber dari APBN. Sesuai peruntukannya, DOM dikucurkan guna menunjang kegiatan yang bersifat representif, pelayanan, keamanan dan biaya kemudahan serta kegiatan lain untuk melancarkan pelaksanaan tugas menteri.

Namun, Suryadharma diduga menggunakan DOM untuk kepentingan pribadi. Uang, misalnya, dibayarkan untuk pengobatan anaknya di rumah sakit. 

Atas perintah mantan Ketua Umum PPP itu, Kabag TU Pimpinan Saefuddin A Syafi'i, Kasubag TU Amir Jafar dan pengelola Teknis Rosandi diminta membayar sejumlah hal.

"Terdakwa memerintahkan Rosandi atau Saefuddin atau Amir membayarkan sebagian DOM kepada pihak-pihak tertentu di luar tujuan diberikannya DOM untuk menunjang kegiatan. Sejumlah Rp1.821.698.840," ungkap Jaksa Supardi di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (31/8/2015).

Adapun pembayaran dilakukan dengan cara transfer melalui beberapa rekening bank yang telah ditentukan Suryadharma. Dana disalurkan kepada pihak-pihak tertentu dan diminta langsung untuk kepentingan terdakwa.

Sejumlah hal yang dibayarkan antara lain:

1. Membayar pengobatan anak terdakwa sejumlah Rp12.430.000

2. Membayar biaya pengurusan visa, membeli tiket pesawat, pelayanan di bandara, transportasi dan akomodasi untuk terdakwa, keluarga dan ajudan terdakwa ke Australia, di antaranya untuk mengunjungi anak Terdakwa yakni Sherlita Nabila yang sedang menempuh pendidikan di Australia sejumlah Rp226.833.050

3. Membayar transportasi dan akomodasi terdakwa, keluarga dan ajudan terdakwa dalam rangka liburan dan kepentingan lainnya di Singapura sejumlah Rp95.375.830

4. Diberikan kepada saudara kandung Terdakwa bernama Titin Maryati sejumlah Rp13.110.000.

5. Membayar visa, transportasi dan akomodasi, serta uang saku terdakwa bersama istri terdakwa bernama Wardatul Asriyah, anak terdakwa bernama Kartika dan Rendika, serta sekretaris/staf pribadi istri terdakwa yakni Mulyanah Acim dalam rangka pengobatan terdakwa ke Jerman sejumlah Rp86.730.250

6. Dipakai biaya tes kesehatan dan membeli alat tes narkoba untuk istri, anak dan menantu Terdakwa dalam rangka pemilihan anggota legislatif sejumlah Rp1.995.000

7. Dipergunakan untuk membayar pajak pribadi terdakwa Tahun 2011, langganan TV kabel, internet, biaya perpanjangan STNK Mercedes Benz, pengurusan paspor cucu terdakwa, diberikan kolega terdakwa dan untuk kepentingan terdakwa lainnya yang seluruhnya sejumlah Rp936.658.685

8. Digunakan untuk membayar biaya pengurusan visa, membeli tiket pesawat, pelayanan di bandara, transportasi dan akomodasi untuk terdakwa, keluarga Terdakwa ke Inggris sejumlah Rp51.976.025.

"Terdakwa juga menggunakan DOM untuk diberikan kepada pihak lain di antaranya THR, sumbangan kepada kolega, staf dan pihak lainnya sejumlah Rp395.685.000," tambah Jaksa Supardi.

Mantan Menteri Agama Surydharma Ali didakwa korupsi secara bersama-sama dengan kader PPP Mukhlisin, mantan Wakil Ketua Umum PPP Hasrul Anwar, staf khusus SDA Ermalena dan pengawal istri SDA, Mulayanah terkait penyelenggaran ibadah haji dan penggunaan dana operasional menteri. Dari korupsi itu ia didakwa merugikan keuangan negara sejumlah Rp27 miliar.

SDA diancam dalam Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 atau Pasal 3 jo Pasal 18 UU nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.



(KRI)