Perludem Sarankan KPU Tetap Menggunakan Surat Suara Bergambar

M Rodhi Aulia    •    Kamis, 01 Oct 2015 09:13 WIB
pilkada serentak
Perludem Sarankan KPU Tetap Menggunakan Surat Suara Bergambar
Ilustrasi surat suara bergambar. (Antara/Sigid Kurniawan)

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Pemilihan Umum tengah mencermati dua pilihan desain surat suara yang akan digunakan untuk daerah dengan pasangan calon tunggal di Pilkada serentak. Pertama, desain surat suara yang memiliki kolom bergambar pasangan calon dan kolom kosong.

Diharapkan, jika pemilih setuju dengan pasangan calon tersebut, maka bisa mencoblos gambar tersebut. Dan jika tidak, bisa mencoblos kolom kosong tanpa gambar. Sementara desain ke dua, adalah satu kolom bergambar pasangan calon dan pemilih menentukan sikapnya di salah satu kolom yang ada di bawah foto tersebut.

Ada dua kolom pilihan. Jika pemilih menyatakan setuju, terdapat tulisan setuju. Dan jika tidak setuju, maka pemilih bisa menyatakan tidak setuju di kolom sebelahnya.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk pemilu dan demokrasi (Perludem), Titi Anggraini mengatakan, pihaknya mendorong agar KPU memilih desain surat suara yang pertama. Hal itu sesuai dengan pemohon uji materi di Mahkamah Konstitusi yang akhirnya calon tunggal tidak terganjal.

"Kalau kita melihat permohonan pak Effendi Ghazali, dia meminta kolom kosong. Saya bisa memahami logika di balik permintaan beliau. Karena memperhitungkan kalau kolom kosong itu, lebih mudah disosialisasikan. Kalau orang tidak setuju dengan foto, di sebelahnya tinggal pilih," kata Titi dalam dialog Bincang Pagi Metro TV, Kamis (1/10/2015).

Sementara, opsi ke dua yang dimiliki KPU adalah format pilihan dengan mengedepankan tulisan setuju atau tidak setuju. Titi menilai, opsi ini memiliki kelemahan. Terutama bagi pemilih yang tingkat literasinya rendah dan juga dianggap tidak ramah dengan kalangan disabilitas.

"Memperkenalkan sistem baru ini, tidak hanya dibebankan kepada KPU saja. tapi juga kepada partai politik, pemerintah daerah, perangkat negara, masyarakat sipil dan media. Semua pihak ini sama-sama punya tanggungjawab untuk menjelaskannya kepada publik," tandas dia.


(MEL)

Eks Dirut PNRI Sempat Terdiam saat Ditanya Peran Andi Narogong

Eks Dirut PNRI Sempat Terdiam saat Ditanya Peran Andi Narogong

43 minutes Ago

Mantan Direktur Umum PNRI, Isnu Edhi Wijaya menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus korupsi K…

BERITA LAINNYA