Bupati Bandung Bantu Biaya Pendidikan Korban Tragedi Mina

Arief Pratama    •    Jumat, 02 Oct 2015 02:32 WIB
haji 2015
Bupati Bandung Bantu Biaya Pendidikan Korban Tragedi Mina
Bupati Dadang M Naser dan rombongan meninjau lokasi longsor di Pangalengan, 6 Mei 2015, Metrotvnews.com/ Jaenal Mutakin

Metrotvnews.com, Bandung: Bupati Bandung, Dadang M Naser menyatakan Pemkab Bandung siap membantu biaya pendidikan anak-anak korban tragedi Mina yang meninggal. 

Anak-anak tersebut adalah buah hati dari pasangan Debi Merlindayani Hamdani,35, yang telah dinyatakan tewas oleh Kementerian Agama RI. Sementara Suami Debi, Asep Ukanda Saputra,35, dikabarkan pula sebagai salah satu korban tewas dalam tragedi tersebut meski belum ada kabar jelas mengenai kondisinya dari petugas haji yang saat ini berada di Mekah. 

Kedua korban meninggalkan dua anak yang masih kecil, yakni Al Gibran Rajasmiraz Mubarok,10, dan Hilanissa Al Kairin Nuril Bilad,4.

"Tentunya untuk pendidikan pasti akan kami bantu. Untuk sementara yang ini akan dibantu biaya pendidikannya. Dan yang lainnya akan kami iventarisir. Karena ini musibah. Apalagi Gibran dan Nissa sekarang yatim piatu," terang Dadang saat mengunjungi rumah orang tua korban di Kampung Cimuncang RT 02/RW 06, Desa Ciwidey, Kamis (1/10/2015).

Dadang menambahkan, bantuan pendidikan ini jelas sangat penting. Sebab pendidikan menjadi salah satu untuk meningkatkan kualitas masyarakat, apalagi pendidikan dua anak korban (Gibran-Nissa, red) masih panjang.

Tak hanya memberikan beasiswa pendidikan, Dadang pun memberikan santunan kepada korban yang diwakili oleh orang tua korban. Saat tengah berbincang dengan keluarga korban, anak yang paling bungsu, Hilanissa merengek meminta uang kepada kakeknya untuk jajan. Spontan, Dadang pun mengeluarkan uang sebesar Rp200 ribu untuk jajan Nissa.

"Atas nama Pemkab Bandung saya menyatakan turut bela sungkawa dan berduka yang mendalam. Semoga almarhum dan almarhumah yang menjadi korban bisa mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah dan menjadikan syuhada," ungkapnya.

Dadang pun meminta keluarga dari semua korban yang meninggal dunia, sabar dan ikhlas dengan kejadian tersebut. Karena, kata dia, semua kejadian yang terjadi tidak pernah diprediksi dan menjadi kehendak Allah.

Kepada wartawan, bupati meminta kepada pemerintah pusat untuk meminta adanya evaluasi penanganan jemaah dalam pelaksanaan ibadah haji tahun depan supaya tragedi di Mina, Arab Saudi, Kamis 24 September lalu, yang membuat ratusan orang meninggal dunia tidak kembali terjadi.

Dalam kejadian tersebut, ratusan orang tak terselamatkan karena terinjak-injak di tengah jutaan jemaah haji yang melaksanakan lempar jumrah, di antaranya warga Kabupaten Bandung yang hingga kini terdata oleh pemerintah, sudah 7 orang meninggal dunia.

"Ini merupakan evaluasi dan juga kewaspadaan buat jemaah. Meski kejadian ini merupakan takdir dan hak Allah, namun kewaspadaan untuk alur jalur jemaah di Mina harus ditingkatkan disiplinnya. Karena menurut kabar, jemaah Indonesia ada di lantai atas, tapi kenapa jadi di bawah," ujar Dadang.

Dadang pun sempat menuturkan pengalamannya saat menunaikan ibadah haji pada 2001 lalu. Menurut Dadang, ia pun sempat bertabrakan dengan arus jemaah haji dari negara lain lantaran jalurnya dipindahkan. Semula, ia dan rombongan haji asal Indonesia berada di lantai atas, tapi oleh askar dibelokkan ke bawah sehingga bertabrakan. Berdasarkan pengalamannya, lebih baik mengalah ke pinggir daripada harus berebutan di jalur yang sama.

Hingga saat ini, data dari Kementerian Agama (Kemenag) RI, jumlah warga Kabupaten Bandung yang sudah dipastikan meninggal dan dirilis oleh Kemenag sebanyak 7 orang, masing-masing Atik Suryati (Kec. Banjaran), Eni Sukarni (Kec. Banjaran), Endang Sutiana (Kec. Cimenyan) dan Debi Merlindayani Hamdani (Kec. Ciwidey), Koko Koswara (Kec. Banjaran), Dadang Barmara Memed (Kec. Banjaran), serta Muhammad Yuhan Suprianto (Kec. Margaasih).

Kepala Seksi (Kasi) Haji dan Umrah Kemenag  Kabupaten Bandung, Asep Sopandi mengatakan, pihaknya telah menyampaikan kabar duka tersebut kepada para keluarga korban.

"Untuk menghindari kesimpang siuran, kami berpatok ke rilis yang diterbitkan secara resmi oleh Kemenag RI. Sampai saat ini, kami terus melakukan pencarian jemaah lain yang masih hilang," ujar Asep saat dihubungi melalui telepon selulernya.

Almarhumah Debi pun masuk dalam kloter JKS 61, yang merupakan kloter campuran dari berbagai daerah di Jawa Barat, di antaranya berasal dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Ciamis, dan Banjar.

"Sebagian besar kloter itu dari KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Persatuan Islam yang jemaahnya dari berbagai kabupaten/kota di Jabar. Kami terus memantau perkembangannya," katanya.


(ALB)