Ngguyang Kuwu, Tradisi Minta Hujan di Brebes

Kuntoro Tayubi    •    Jumat, 02 Oct 2015 13:28 WIB
kemarau dan kekeringan
<i>Ngguyang Kuwu</i>, Tradisi Minta Hujan di Brebes
Acara tradisi Ngaguyang Kuwu, di Kampung Adat Jalawastu, Desa Ciseureuh. (Metrotvnews.com/Kuntoro Tayubi)

Metrotvnews.com, Brebes: Musim kemarau yang berkepanjangan, membuat masyarakat adat Jalawastu di Desa Ciseureuh, Ketanggungan, Brebes, Jawa Tengah, menggelar tradisi Ngaguyang Kuwu untuk memohon turunnya hujan.

Seperti yang dituturkan Pemangku Adat Jalawastu, Dastam, Ngaguyang Kuwu merupakan tradisi masyarakat Jalawastu sebagai bentuk ikhtiar meminta hujan pada Tuhan.

"Ngaguyang Kuwu digelar ketika musim kemarau tak menunjukkan tanda-tanda berakhir. Lebih dari 3 bulan masyarakat di wilayah Jalawastu hidup dalam kekeringan. Sebagai bukti adalah surutnya air di curug Rambu Kasang ini," papar Dastam, ditulis Jumat (2/10/2015).

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Brebes melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Bambang Haryanto menyatakan Ngaguyang Kuwu merupakan bentuk tradisi masyarakat dalam mengapresiasi kosmologi alam.

"Meski tidak sebesar upacara Ngasa, tradisi Ngaguyang Kuwu merupakan ikonik dari kampung budaya Jalawastu" ujar Bambang Haryanto, di lokasi kegiatan.

Puncak acara ketika Kuwu (kepala desa) diguyur bersama oleh pemangku adat, Dewan Kokolot dan masyarakat mengguyur bergiliran. Sebagai balasannya, Kuwu mengguyur masyarakat dan sesepuh adat. Pesta siram air pun berlangsung.

Menurut Kasi Sejarah dan Purbakala Disparbudpora Brebes, tradisi Ngaguyang Kuwu adalah kegiatan yang mempertimbangkan kebutuhan. Sebab acara adat ini terakhir digelar tahun 1989.

"Mungkin tahun 2015, musim kemarau terlalu panjang dan sumber mata air di Jalawastu mongering. Ekologi alam terancam dan sendi kehidupan masyarakat juga berpengaruh, maka digelarlah Ngaguyang Kuwu,” pungkas Wijanarto.


(SAN)