Gunawan Pertahankan Bisnis Batik Warisan Gunakan Pewarna Alami

Pythag Kurniati    •    Sabtu, 03 Oct 2015 10:02 WIB
batik
Gunawan Pertahankan Bisnis Batik Warisan Gunakan Pewarna Alami
Salah satu kain batik yang menggunakan pewarna alami, MTVN - Pythag Kurniati

Metrotvnews.com, Solo: Batik menjadi salah satu identitas budaya di Indonesia. Para pengusaha batik, utamanya di Solo, Jawa Tengah, pun 'bersaing' untuk mempertahankan identitas tersebut. Satu di antaranya Gunawan Setiawan yang mempertahankan batik warisan keluarga dengan menggunakan bahan pewarna alami.

"Batik dengan pewarna alami telah diproduksi sejak dahulu oleh ayah saya, Muhammad, sekitar tahun 1972. Ayah saya pun mewarisi membuat batik dengan pewarna alami dari eyang saya yaitu Muhammad Asngad. Kemungkinan eyang buyut saya yang juga seorang pembatik yang menurunkan itu pada eyang saya," ungkapnya saat dihubungi Metrotvnews.com, Jumat (02/10/2015).

Dengan kata lain, batik pewarna alami itu merupakan warisan turun temurun dari lebih tiga generasi di keluarga Gunawan. Menurut Gunawan, ia menggunakan pewarna dari bahan-bahan alami misal daun dan kulit kayu. Ia juga biasa menggunakan kayu teger, kulit kayu tingi, dan kulit kayu jambal untuk menghasilkan warna sogan (kuning kunyit).

"Warna sogan ini sejak dahulu kala merupakan warna khas batik Solo. Warnanya cenderung kalem dan tidak ngejreng," kata Gunawan.

Selain warna Sogan, warna wedelan juga menjadi khas batik produksinya. Warna hitam kebiruan itu didapat dari daun indigo.

Ada alasan menggunakan bahan alami sebagai pewarna. Yaitu hasil warnanya unik dan tak pernah identik sama.

"Ini justru unik dan batik dengan warna alami menarik minat banyak penggemar batik," tutur pria kelahiran Solo, 19 Oktober 1971 itu.

Indonesia, kata Gunawan, dikaruniai alam yang kaya-raya. Sehingga sudah sepantasnya masyarakat pandai menggunakan kekayaan alam tersebut untuk hal yang positif sesuai batasan. 

"Kayu-kayu kemudian daun-daunan di Indonesia sungguh sangat beragam dan menarik untuk dipelajari. Maka batik dengan pewarna alam ini sesungguhnya punya potensi besar diproduksi di Indonesia," ungkap Gunawan yang kini memiliki tiga toko di Solo yaitu Laweyan, Kauman, dan Jalan Veteran.

Di peringatan Hari Batik, Gunawan pun mengajak pengusaha untuk kreatif melestarikan dan mengembangkan produksi batik. Agar, motif batik Indonesia tak kalah bersaing dengan batik yang muncul di negara lain.

"Apalagi, sebentar lagi kita juga menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)," ujarnya.

Bukan hanya itu, Gunawan pun mengajak warga Indonesia mencintai batik. Caranya, mengenakan busana bermotif batik.

"Kalau bisa pakai batik tiap hari. Karena batik itu warisan nenek moyang yang luar biasa dan dunia mengakui itu," pungkas Gunawan.


(RRN)