Remitansi TKI Akhir Desember Diyakini Capai USD10 M

Misbahol Munir    •    Minggu, 04 Oct 2015 13:17 WIB
bnp2tki
Remitansi TKI Akhir Desember Diyakini Capai USD10 M
Kepala BNP2TKI Nusron Wahid,--Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay

Metrotvnews.com, Jakarta:  Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) terus melakukan terobosan dalam rangka meningkatkan remitansi atau pengiriman uang dari TKI ke dalam negeri. Literasi keuangan yang terus dilakukan bagi calon TKI guna membuka rekening untuk transaksi, diyakini remitansi dari TKI dalam menyumbang devisa negara akan mencapai USD10 miliar pada akhir Desember nanti.

"Posisi tahun lalu sebesar USD8,4 miliar.  BNP2TKI optimis per akhir Desember sumbangan devisa melalui remitansi bisa mencapai 10 miliar dolar jika pemerintah fokus melakukan literasi keuangan kepada CTKI sebelum berangkat. Termasuk wajib membukakan rekening tabungan atas nama TKI," kata Kepala BNP2TKI Nusron Wahid dalam keterangannya, Sabtu (3/10/2015).

Gagasan ini, kata Nusron, akan coba dilakukan untuk negara tujuan Asia Pacific per 12 Oktober 2015 melalui program layanan keuangan terpadu oleh perbankan mitra BNP2TKI. Seluruh CTKI otomatis, kata dia, akan terliterasi tentang produk keuangan.

"Akan lebih dahsyat lagi jika kita bisa memberdayakan keluarga mereka di daerah sebagai lahan investasi produktif bagi mereka agar tidak konsumtif. Pemerintah harus hadir. Saya yakin TKI sangat bisa membantu mendongkrak ekonomi kita," kata dia.

Nusron menjelaskan, terkait dengan remitansi TKI, berdasarkan data Bank Indonesia per Juli 2015 meningkat 15%. Dari peningkatan itu, angka tertinggi adalah remitansi dari para TKI di Asia-Pacific, kemudian disusul Timur Tengah, Amerika Serikat, Eropa, dan Australia. Meski remitansi dari Asia-Pasific paling besar, tetapi dari angka prosentase peningkatannya tidak signifikan.

"Justru pertumbuhan remitansi di negara-negara Asia yang paling kecil yaitu 2%," kata mantan anggota DPR fraksi Golkar itu.

Atas hal itu, kata dia, BNP2TKI merasa perlu untuk mengkajinya. Apalagi, pertumbuhan pengiriman uang di Timur Tengah saja yang ada keputusan moratorium justru pertumbuhan remitansinya sangat signifikan yaitu 28%.

"Kemungkinan besar, TKI formal semakin banyak dikirimkan ke Timur Tengah sehingga remitansi meningkat atau gaji yang diterima semakin besar," tegas dia.

Sedangkan Asia Pacific, mengalami pertumbuhan yang kurang pesat dikarenakan ada dua negara yang mengalami penurunan remitansi yaitu Malaysia dan Singapura. Hal ini bisa disebabkan karena banyaknya unprosedural sehingga tidak mampu mengirimkan uang melalui akses formal serta tidak mampu mengelola keuangan pribadi mereka (konsumtif).

"Kemungkinan lain, karena ada potongan gaji yang berlebihan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab sehingga TKI tidak mampu mengirimkan uang. Padahal gaji sudah naik," katanya.  

Seperti diketahui, berdasarkan data dari BI, angka remitansi per Juli 2014 sebesar USD 4.794.514.226. Angka itu naik per Juli 2015 menjadi sebesar USD 5.516.239.148. Sebagai perbandingan, remitansi dari Asia-Pacific per Juli 2014 USD 2.690.442.758. Hanya naik sedikit per Juli 2015 yakni USD 2.749.174.684. Kemudian untuk Timteng, per Juli 2014 sebesar USD 1.638.580.018, dan naik per Juli 2015 menjadi USD 2.099.443.811.


(MBM)