Air Mengalir sampai Jauh

   •    Kamis, 08 Oct 2015 11:40 WIB
tni
Air Mengalir sampai Jauh
Sejumlah warga menyeberang melaui jembatan bambu di Sungai Bengawan Solo, Desa Ledokkulon, Bojonegoro, Jawa Timur. (foto: Antara/Aguk Sudarmojo)

Budi Susilo Soepandji, Guru Besar Universitas Indonesia Bekerja di Lemhannas RI

'AIR mengalir sampai jauh' ialah sepenggal lirik dalam lagu Bengawan Solo karya Gesang, sang maestro keroncong Indonesia yang turut dipopulerkan Sundari Soekotjo. Lagu yang diciptakan pada 1940 itu dapat dipahami dari tiga perspektif. Pertama, dimensi perjuangan karena alunan musik keroncong populer di masa pergerakan dan revolusi fisik sehingga kehadiran lagu Bengawan Solo turut mewarnai perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kedua, dimensi geografis karena lagu itu bercerita mengenai kondisi alam Pulau Jawa yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi sehingga mendukung arus perdagangan yang menggunakan sungai sebagai sarana lalu lintas pada masa itu. Ketiga, dimensi seni karena ternyata alunan irama keroncong merupakan musik yang tidak hanya disukai pejuang kemerdekaan, tetapi juga cukup digemari tentara Jepang pada masa pendudukan Jepang (1942-1945).

Tidaklah mengherankan apabila hingga kini lagu Bengawan Solo masih cukup populer dan mendapatkan tempat di hati masyarakat 'Negara Matahari Terbit', bahkan telah diterjemahkan dan digubah dalam berbagai versi dan beragam bahasa.

Konon, lirik dan nada lantunan lagu Bengawan Solo lahir dari inspirasi yang diperoleh Gesang atas perpaduan senandung keroncong dengan keindahan dan kekayaan bumi Nusantara. Inspirasi tersebut tentunya tidak akan secara indah tecermin, apabila Pulau Jawa mencerminkan kondisi alam sebaliknya, yakni berkontur gurun pasir, gersang, dan curah hujan yang sangat rendah. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila lagu Bengawan Solo memiliki suatu daya romantisme yang dapat membasuh fisik dan menyegarkan jiwa-jiwa yang lelah dalam revolusi perjuangan kemerdekaan masa itu.

Perjuangan revolusi kemerdekaan Indonesia memang ibarat suatu orkestrasi musik dengan rakyat dan tentara mengalir dalam satu derap irama, bersatu padu untuk membebaskan bumi Nusantara dan bangsa Indonesia dari penjajahan. Adalah semangat kepahlawanan, kesetiakawanan, dan kecintaan pada Republik yang membentuk nilai-nilai yang kemudian memberikan roh pada perjuangan fisik para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno menyatakan dalam sebuah artikel beliau yang dimuat dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I bahwa 'pada hakekatnya perjuangan bangsa Indonesia adalah perjuangan ruh' (2015: 85). Pentingnya perjuangan roh juga pernah Bung Karno sampaikan ketika pada 1943 beliau mengisyaratkan bahwa suatu saat pasukan Jerman akan menderita kekalahan karena perjuangan mereka diisi dan didorong roh imperialisme belaka.

Dalam suatu perjuangan ruh dengan jiwa, semangat, dan pengorbanan fisik melebur untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan sejati, kita akan menemukan kesatuan kejuangan antara rakyat dan tentara sebagaimana tecermin dalam revolusi kemerdekaan Indonesia. Kesatuan itulah yang kiranya dapat menjelaskan mengapa khitah dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada hakikatnya ialah manunggal dengan rakyat Indonesia.

TNI lahir dari rahim perjuangan semesta anak bangsa untuk memerdekakan bumi Nusantara dari tirani imperialisme dan kolonialisme. Dapat dibayangkan, apabila tidak dilandaskan pada perjuangan roh, perjuangan revolusi kemerdekaan Indonesia akan cepat padam karena yang ada pamrih semata tanpa jiwa dan semangat pengorbanan. Cita-cita kemerdekaan sejati bangsa dan tanah air Indonesia pun akan sebatas angan-angan semata.

Setelah 70 tahun merdeka, aspirasi untuk menjadi bangsa yang berdikari dan berdaulat tetaplah menjadi tantangan bagi segenap bangsa Indonesia. Pekerjaan rumah bagi generasi penerus dewasa ini ialah mempertahankan dan merawat kemerdekaan yang telah direbut dengan darah dan pengorbanan para pejuang kemerdekaan. Perjuangan roh pun tetap menemukan relevansinya dalam masa sekarang ini yang hanya dapat diaktualisasikan melalui pemahaman yang utuh terhadap Pancasila. Dalam hal ini, Pancasila merupakan modalitas utama untuk menunaikan tugas kebangsaan dan kenegaraannya serta menjadi sumber inspirasi dalam menggali jati diri dan menemukan kembali roh perjuangan demi mempertahankan dan merawat kemerdekaan.

Apabila perjuangan roh tercerabut dari jati dirinya sebagai satu kesatuan bangsa dan tanah air, bangsa Indonesia tidak dapat hidup dan mengisi kemerdekaannya. Kecerdasan dalam menjawab tantangan mengisi kemerdekaan dengan demikian tidak dapat dilakukan tanpa adanya inovasi. Dalam konteks inilah, penting untuk memastikan keterkaitan antara inovasi dan perjuangan roh berbasiskan Pancasila sebagai jati diri bangsa yang merupakan landasan setiap upaya anak bangsa dalam mengisi kemerdekaan secara positif.

Sebagaimana yang pernah disampaikan Peter Senge, pakar dari Sloan School of Management, Massachusets Institute of Technology, pada suatu kesempatan kuliah umum di Jakarta pada 2010, inovasi bukanlah berimajinasi ataupun berkhayal semata, tetapi menggali sumber-sumber baru bagi nilai-nilai yang sudah ada. Pancasila merupakan value (nilai) yang harus terus 'digali'. Usaha-usaha untuk menggali nilai-nilai baru Pancasila tidak lain merupakan suatu usaha-usaha untuk menemukan sumber kekuatan dan potensi hakiki bangsa Indonesia.

Suatu contoh yang relevan ialah inovasi untuk menyokong konsep pertahanan rakyat semesta dalam menghadapi ancaman perang siber. Dalam konteks perang siber ini, taktik gerilya menjadi kurang relevan dan perlu dikaji kembali. Dalam aspek ilmu pengetahuan serta teknologi, sudah tidak dapat lagi dipisahkan antara perjuangan TNI dan perjuangan rakyat. Namun, tetap perlu dipikirkan suatu wadah, mekanisme, dan konsep yang menghubungkan kerja sama efektif antara unsur militer dan nonmiliter dalam suatu pertahanan semesta menghadapi ancaman perang siber tersebut.

Pada akhirnya, generasi mendatanglah yang menjadi tolok ukur kesuksesan bangsa Indonesia, dalam perjuangan roh mengisi kemerdekaan melalui pemanfaatan sumber kekayaan alam yang berbasiskan pemahaman akan jati diri bangsa dan tanah air Indonesia. Kita perlu menjaga agar jangan sampai generasi mendatang bertanya: mengapa aliran air kekayaan alam bangsa Indonesia tidaklah sampai jauh pada generasi kami seperti yang pernah dilantunkan Gesang dalam lagu Bengawan Solo?

Dirgahayu TNI....


(ADM)

KPK Yakin Mampu Jawab Argumentasi Praperadilan Novanto

KPK Yakin Mampu Jawab Argumentasi Praperadilan Novanto

3 hours Ago

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bakal memberikan jawaban atas gugatan praperadilan Setya Nov…

BERITA LAINNYA