Penataan Sriwedari Jadi Tolok Ukur Kinerja Tim Ahli Cagar Budaya Solo

Pythag Kurniati    •    Kamis, 08 Oct 2015 18:31 WIB
cagar budaya
Penataan Sriwedari Jadi Tolok Ukur Kinerja Tim Ahli Cagar Budaya Solo
Tujuh Tim Ahli Cagar Budaya Kota Solo dilantik oleh Penjabat (Pj) Wali Kota Solo, Budi Suharto, Kamis (8/10/2015). Foto: MTVN/Pythag

Metrotvnews.com, Solo: Tim Ahli Cagar Budaya Kota Solo mengaku malu jika tidak dapat mempertahankan fungsi kawasan Sriwedari sebagai kawasan cagar budaya yang dapat dinikmati publik. Pernyataan tersebut mengemuka saat pelantikan Tim Ahli Cagar Budaya, di Balaikota Solo, Kamis (8/10/2015).

“Setelah dilantik ini jika tidak bisa mengembalikan fungsi Sriwedari kepada publik, kami merasa malu. Makanya kami meminta doa serta dukungan dari semuanya,” kata koordinator Tim Ahli Cagar Budaya, Titis Srimuda Pitana, usai dilantik.

Titis mengatakan hak milik Sriwedari memang di luar kewenangan tim ahli cagar budaya. Tetapi, pihaknya akan berusaha menegakkan regulasi sesuai dengan aturan cagar budaya yang berlaku. “Ada UU Nomor 11 Tahun 2010 mengenai Cagar Budaya kemudian Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 1 Tahun 2015 hingga Perda Nomor 10 Tahun 2013. Kami akan berusaha menegakkan regulasi itu,” kata Titis.

Harapannya, sekali pun Sriwedari tidak dalam kewenangan Pemerintah Kota Solo, fungsinya sebagai kawasan cagar budaya tetap dipertahankan. “Kami akan terus mengkaji ke arah sana,” ujar dia.

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya lainnya, KGPH Dipokusumo, mengatakan Sriwedari awalnya kawasan privat, namun oleh Sinuhun Pakubuwono X dikembalikan kepada publik. "Di Radya Pustaka juga tersimpan benda-benda cagar budaya seperti naskah kuno, keris, wayang dan lain sebagainya. Itu semua juga harus dikelola,” tuturnya.

Dipokusumo berharap spirit Sinuhun untuk menjadikan kawasan tersebut ruang yang dapat dinikmati masyarakat tetap dapat dipertahankan.

Laman Wikipedia menulis kawasan Sriwedari adalah komplek taman yang terletak di Kecamatan Lawiyan, Kota Solo, Jawa Tengah. Sejak era Pakubuwana X, Taman Sriwedari menjadi tempat diselenggarakannya tradisi hiburan Malam Selikuran. Sriwedari juga pernah menjadi lokasi penyelenggaraan PON I pada 1948. Kepemilikan Sriwedari masih menjadi sengketa antara pemerintah Kota Solo dengan ahli waris keluarga KRMH Wirjodiningrat.


(UWA)

Pernyataan Pengacara Novanto Memprihatinkan

Pernyataan Pengacara Novanto Memprihatinkan

30 minutes Ago

Fredrich dianggap melewati batas dalam memberikan keterangan dan informasi tentang Novanto yang…

BERITA LAINNYA