Harap-Harap Cemas Menanti Hasil

   •    Jumat, 09 Oct 2015 05:52 WIB
Harap-Harap Cemas Menanti Hasil

RESPONS terhadap paket kebijakan ekonomi tahap III sebagian besar bernada positif. Tanggapan mengapresiasi datang dari kalangan pengusaha, ekonom, hingga parlemen.

Seperti yang dijanjikan pemerintah, kebijakan yang digelontorkan menyasar penguatan daya beli dan insentif lanjutan bagi sektor riil. Harga energi diturunkan, akses permodalan diperluas, dan perizinan makin diper mudah.

Sayangnya, euforia penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah surut. Rupiah mulai melemah lagi.

Secara psikologis itu memengaruhi gairah menyambut kebijakan-kebijakan baru pemerintah.

Kini, tinggal menanti apakah kebijakan tersebut benarbenar mampu menjadi obat mengatasi kemandekan ekonomi. Hanya dua kemungkinan, yakni berhasil atau gagal.

Tidak bisa tidak, keberhasilan harus dimulai dengan kecepatan dan ketepatan dalam pelaksanaan kebijakan, termasuk kebijakan ikutannya.

Sebagai contoh penurunan harga solar. Jika sasaran yang dituju ialah menguatkan daya beli, selayaknya ongkos angkutan umum dipastikan turun, khususnya untuk bus yang merupakan pengguna solar.

Artinya, diperlukan kebijakan ikutan berupa penetapan tarif baru ongkos angkutan bus perkotaan dan antarkota.

Contoh lain, diskon harga gas dan tarif listrik untuk industri. Tujuannya tentu saja agar ongkos produksi industri bisa ditekan dengan menurunnya biaya pemakaian energi.

Namun, diskon itu akan sia-sia belaka bila kemudian industri kesulitan mendapatkan gas karena minimnya alokasi pasokan. Sama halnya apabila listrik kerap padam akibat kekurangan daya listrik.

Implementasi paket-paket kebijakan menciptakan fundamen ekonomi yang kuat. Itulah yang sedang kita nantikan dengan harap-harap cemas. Berharap mulai dari titik ini, perekonomian berangsur pulih.

Kita juga memaklumi tidak ada kebijakan yang sempurna, kebijakan yang dijamin efektif mengatasi persoalan. Koreksi mungkin diperlukan di tengah jalan. Evaluasi dari hari ke hari menjadi sangat penting. Di sinilah kepekaan pemerintah dalam menjaring aspirasi pelaku usaha dan masyarakat diperlukan.

Perlu diingat pula, fokus pada pelaksanaan paket kebijakan bukan berarti menjadi lengah dalam menjalankan tugas yang lain. Kebijakan menguatkan daya beli akan percuma jika laju kenaikan harga-harga kebutuhan pokok tidak terjaga.

Sektor riil sedang membutuhkan dorongan yang kuat untuk bergerak. Tanpa permintaan konsumen yang tinggi, hal itu sulit diwujudkan. Konsumen enggan membelanjakan uang ketika daya beli terkikis oleh infl asi berlebih.

Daya beli turut terpangkas oleh suku bunga cicilan pinjaman yang cenderung naik. Gerak ekspansi industri pun terkekang oleh suku bunga tinggi.

Di sisi lain, bunga pinjaman tidak bisa turun di tengah ekspektasi infl asi yang meningkat. Ujung-ujungnya kendalikan infl asi agar perekonomian kembali melaju pesat. turun, khususnya untuk bus yang merupakan pengguna solar.

Artinya, diperlukan kebijakan ikutan berupa penetapan tarif baru ongkos angkutan bus perkotaan dan antarkota.

Contoh lain, diskon harga gas dan tarif listrik untuk industri. Tujuannya tentu saja agar ongkos produksi industri bisa ditekan dengan menurunnya biaya pemakaian energi.

Namun, diskon itu akan sia-sia belaka bila kemudian industri kesulitan mendapatkan gas karena minimnya alokasi pasokan. Sama halnya apabila listrik kerap padam akibat kekurangan daya listrik.

Implementasi paket-paket kebijakan menciptakan fundamen ekonomi yang kuat. Itulah yang sedang kita nantikan dengan harap-harap cemas. Berharap mulai dari titik ini, perekonomian berangsur pulih.

Kita juga memaklumi tidak ada kebijakan yang sempurna, kebijakan yang dijamin efektif mengatasi persoalan. Koreksi mungkin diperlukan di tengah jalan. Evaluasi dari hari ke hari menjadi sangat penting. Di sinilah kepekaan pemerintah dalam menjaring aspirasi pelaku usaha dan masyarakat diperlukan.

Perlu diingat pula, fokus pada pelaksanaan paket kebijakan bukan berarti menjadi lengah dalam menjalankan tugas yang lain. Kebijakan menguatkan daya beli akan percuma jika laju kenaikan harga-harga kebutuhan pokok tidak terjaga.

Sektor riil sedang membutuhkan dorongan yang kuat untuk bergerak. Tanpa permintaan konsumen yang tinggi, hal itu sulit diwujudkan. Konsumen enggan membelanjakan uang ketika daya beli terkikis oleh inflasi berlebih.

Daya beli turut terpangkas oleh suku bunga cicilan pinjaman yang cenderung naik. Gerak ekspansi industri pun terkekang oleh suku bunga tinggi.

Di sisi lain, bunga pinjaman tidak bisa turun di tengah ekspektasi inflasi yang meningkat. Ujung-ujungnya kendalikan inflasi agar perekonomian kembali melaju pesat.

KPK Periksa Istri Novanto Senin Depan

KPK Periksa Istri Novanto Senin Depan

3 hours Ago

Deisti diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Dirut PT Quadra Solution, Anang Sugiana Sudiharj…

BERITA LAINNYA