Prancis Bersiap Jadi Tuan Rumah KTT Perubahan Iklim 2015

Willy Haryono    •    Jumat, 09 Oct 2015 07:42 WIB
perubahan iklim
Prancis Bersiap Jadi Tuan Rumah KTT Perubahan Iklim 2015
Warga mengikuti Car Free Day di depan gedung Palais Garner dalam bagian menyambut KTT Perubahan Iklim di Paris pada Desember 2015. (Foto: AFP / BERTRAND GUAY)

Metrotvnews.com, Jakarta: Perubahan iklim sudah menjadi masalah yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika tidak segera ditanggulangi, maka climate change ini bisa berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia di muka Bumi.

Untuk mencoba mencari jalan keluar terbaik, PBB dan sejumlah negara besar akan berkumpul bersama di Paris pada Desember mendatang Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim United Nation Conference of the Parties (COP21). 

"Negosiasi tentang perubahan iklim sudah terjadi dari tahun 1970-an, dimana para ilmuan mulai tertarik dengan perubahan cuaca dan temperatur," ujar Deputi Wakil Khusus untuk Paris Climate Conference Philippe Lacoste dalam acara Meet The Diplomats di Institut Francais de'Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2015).

Lacoste juga menambahkan negosiasi pertama diadakan pada 1992 di Rio de Jenero dengan nama Earth Summit. Penghargaan pertama yang diraih dari negosiasi ini adalah Kyoto Protocol.

"Perhargaan pertama dari negosiasi mengenai iklim ini adalah persetujuan Kyoto Protocol, yang merupakan komitmen pertama dari seluruh negara untuk mengurangi emisi yang mereka punya," kata Lacoste.

Menurut Lacoste, masalah perubahan iklim ini masih menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah belum bergabungnya Amerika Serikat. AS adalah negara yang menghasilkan emisi cukup besar yang dapat berimbas pada meningkatnya temperatur di muka bumi atau dikenal lewat istilah pemanasan global. 

Terdapat pula beberapa negara yang masih belum menentukan sikap untuk mengurangi emisi negaranya masing-masing.

"Kami berharap negara yg berada dalam COP21 dapat mengajak negara lain yang tidak tergabung untuk sama-sama mengurangi emisi negara dan bertanggung jawab atas aktivitas kemanusiaan yang dapat merusak iklim," lanjutnya.

Presiden AS Barack Obama mendesak para pemimpin dunia untuk menyepakati sebuah perjanjian mengikat dan kuat terkait perubahan iklim dalam dialog akhir tahun di Paris. 

"Dalam dua bulan ke depan, dunia harus bersatu untuk membuat perjanjian global yang kuat," ujar Obama di gedung PBB, sebulan lalu.

"Semua negara akan terkena dampak perubahan iklim, dan orang-orang miskin yang akan terkena imbas terburuknya, seperti meningkatnya ketinggian permukaan laut, kekeringan parah," sambung dia.

Konferensi di Paris pada akhir 2015 bertujuan membentuk sebuah kesepakatan untuk membatasi efek buruk dari perubahan iklim. (Nabila Gita)



(WIL)