Ketika Diversifikasi Pangan Jadi Kearifan Lokal

   •    Sabtu, 10 Oct 2015 10:53 WIB
analisa ekonomi
Ketika Diversifikasi Pangan Jadi Kearifan Lokal
Ilustrasi. (FOTO ANTARA/Asep Fathulrahman)

KEBIJAKAN diversifikasi pangan yang digulirkan pemerintah pusat, bukan hal baru bagi kalangan masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra), terutama masyarakat yang mendiami pulau-pulau kecil, seperti Wakatobi, Buton, dan Muna.

Mulai dari nenek moyang, masyarakat di wilayah pulau-pulau kecil tersebut telah menerapkan diversifikasi pangan dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak tergantung pada satu jenis makanan, tetapi beragam jenis. Ubi kayu, jagung, dan umbi-umbian menjadi bahan makanan utama bagi masyarakat di wilayah kepulauan tersebut karena hanya jenis tanaman tersebutlah yang cocok dengan kondisi geografis pulau yang sebagian besar terdiri atas tanah tandus dan berbatu.

"Mulai dari leluhur, kami masyarakat di Wakatobi sudah akrab mengonsumsi ubi kayu, jagung, dan umbi-umbian. Makanan jenis nasi, hanya dikomsunsi pada saat hari-hari besar keagamaan atau pesta adat," kata tokoh masyarakat Wakatobi Nursalam Lada di Kendari, sebagaimana dikutip dari Antara, Sabtu (10/10/2015).

Sekarang pun, lanjut dia, sebagian besar masyarakat Wakatobi masih tetap menjadikan ubi kayu, jagung dan umbi-umbian seperti ubi jalar, keladi, dan uwi sebagai bahan makanan utama. Bahkan, pada setiap kesempatan acara resmi yang digelar Pemerintah Kabupaten Wakatobi, sajian menu makanan selalu terbuat dari beragam jenis
bahan makanan.

"Di acara resmi apa pun di Wakatobi, semua jenis makanan, (nasi, 'kasuami', 'kapusu nosu' dan 'kambalu', selalu menjadi sajian utama. Para tamu undangan, terutama dari luar Wakatobi tinggal memilih jenis makanan sesuai dengan selera," jelas dia.

'Kasuami', menurut Nursalam yang juga Wakil Ketua DPRD Provinsi Sultra itu, merupakan jenis makanan berbahan baku ubi kayu yang diparut, lalu dikukus, sedangkan 'kapusu nosu' adalah jenis makanan terbuat dari jagung yang dibuang kulit arinya, lalu dimasak pakai santan kelapa. Sementara 'kambalu' merupakan jenis makanan berbahan uwi yang diparut, kemudian dibungkus daun kepala seperti lapa-lapa lalu dimasak.

"Kita masyarakat Wakatobi mengonsumsi ketiga jenis makanan itu menggunakan lauk berbagai jenis ikan dan sayur daun kelor dicampur pepaya, bayam, kangkung, bunga pepaya, atau sayur nangka dan lain-lain," ujar dia.

Kearifan lokal, menurut Nursalam, mengonsumsi beragam jenis makanan sudah menjadi kearifan lokal masyarakat Wakatobi. Maka, setiap kenaikan harga beras dan berbagai jenis kebutuhan pokok lainnya, tidak terlalu membawa dampak buruk bagi masyarakat Wakatobi. Halitu, kata dia, karena semua bahan makanan utama, termasuk lauk-pauk, seperti ikan, cukup tersedia di Wakatobi.

"Masyarakat Wakatobi baru merasakan dampak ekonomi yang luar biasa kalau harga BBM yang naik. Ketika harga BBM naik, ongkos transportasi juga akan naik sehingga harga barang yang berasal dari luar Wakatobi akan mengalami penaikan," tuturnya.

Bupati Wakatobi Hugua mengakui bila diversifikasi pangan di Wakatobi sudah menjadi budaya masyarakat setempat. Mulai dari leluhur, makanan utama sebagian besar masyarakat di daerah tujuan wisata dunia itu adalah ubi kayu, jagung, dan umbi-umbian.

"Masyarakat Wakatobi baru mesarakan krisis pangan kalau jenis-jenis tanaman tersebut tidak bisa berporduksi karena kemarau panjang," katanya.

Selama tanaman yang sudah akrab dengan masyarakat itu berproduksi dengan baik, kata dia, masyarakat Wakatobi tidak akan mengalami krisis pangan. Dalam upaya melindungi kearifan lokal, masyarakat yang mengonsumsi beragam jenis makanan, Pemerintah Kabupaten Wakatobi sejak setahun terakhir sudah menetapkan satu hari tanpa nasi dalam seminggu.

"Kita ingin budaya masyarakat yang mengonsumsi bahan makanan lokal, tidak tergantikan oleh nasi sehingga ketika terjadi kelangkaan beras, masyarakat Wakatobi tidak mengalami krisis pangan," papar dia.

Sementara itu, masyarakat yang mendiami wilayah daratan Sultra menjadikan 'sinonggi' sebagai makanan pokok karena jenis tanaman tersebut relatif banyak tumbuh di daratan Sultra, terutama di daerah rawa. 'Sinonggi' merupakan makanan berbahan baku utama tepung sagu yang relatif sangat mudah dibuat. Caranya, tepung sagu dilarutkan lebih dahulu dengan air dingin, lalu disiram dengan air panas, kemudian diaduk-aduk. Hanya kurang lebih lima menit diaduk, tepung sagu sudah bisa menjadi sinonggi dan siap disantap.

"Mosonggi' atau makan 'sinonggi' paling enak menggunakan air kuah siput dari sungai atau air kuah ikan. Akan tetapi, pada dasarnya 'sinonggi' dapat dikonsumsi menggunakan air kuah apa saja, termasuk kuah berbagai jenis sayur. Menurut dia, mulai dari leluhur masyarakat Tolaki, hanya menjadikan dua jenis makanan, beras dan sagu sebagai bahan makanan utama, sedangkan jenis makanan ubi kayu, jagung, dan umbi-umbian, hanya sebagai bahan makanan pelengkap. Sekarang pun, kata dia, masyarakat Tolaki yang bermukim di pelosok-pelosok desa masih tetap menjadikan kedua jenis makanan tersebut sebagai bahan makanan pokok.

'Sinonggi' jadi bahan makanan utama di dalam keluarga, sedangkan nasi menjadi makanan utama di dalam pesta perkawinan atau hajatan lain oleh sebuah keluarga. "Mengonsumsi 'sinonggi' yang terbuat dari sagu, jauh lebih murah daripada mengonsumsi nasi dari bahan beras. Satu liter sagu yang harga hanya Rp2.000 bisa mencukupi kebutuhan 10 sampai 15 orang, sedangkan 1 liter beras hanya cukup untuk tiga atau empat orang," tukasnya.

Itu sebabnya, kata dia, masyarakat Tolaki hingga saat ini menjadikan dua jenis makanan tersebut sebagai makanan pokok. Pohon sagu tumbuh subur hampir di setiap tempat, sedangkan tanaman padi sebagai sumber beras sudah menjadi usaha tani masyarakat sejak dari leluhur.

"Jadi, kita masyarakat Tolaki tidak akan kesulitan pangan hanya karena kelangkaan beras. Masyarakat di daerah ini, sejak lama sudah akrab dengan bahan makanan dari sagu, ubi kayu, jagung, dan umbi-umbian yang tumbuh subur di daerah ini," pungkas dia.


(AHL)

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

1 day Ago

Fredrich menyesalkan sikap JPU KPK yang dinilai sengaja tidak mau menghadirkan sejumlah saksi k…

BERITA LAINNYA