Juergen Klopp Terbentur Sejarah Buruk Liverpool

Hilman Haris    •    Sabtu, 10 Oct 2015 17:37 WIB
liverpool fc
Juergen Klopp Terbentur Sejarah Buruk Liverpool
Juergen Klopp saat diperkenalkan sebagai manajer anyar Liverpool (PAUL ELLIS / AFP)

Metrotvnews.com, Liverpool: Perayaan natal 2015 dan tahun baru  2016 masih menunggu beberapa pekan lagi. Namun fan Liverpool sepertinya sudah lebih dulu berpesta sejak Jumat 9 Oktober lalu. Setidaknya itu yang terlihat di media sosial.  Sorak-sorai dan segala harapan dilantunkan oleh fan The Reds ketika tim kesayangan secara resmi menunjuk bekas pelatih Borussia Dortmund, Juergen Klopp sebagai manajer anyar untuk menggantikan Brendan Rodgers.

Suporter The Reds wajar senang. Klopp memang bukan pelatih sembarang. Dortmund sukses dibawa Klopp menyabet titel Bundesliga 1 2010--2011 dan 2011--2012, DFB Pokal 2011--2012, Piala Super Jerman 2008, 2013, 2014, serta runner-up Liga Champions 2012--2013. Semua pencapaian itu terasa fenomenal karena Klopp sukses membangun tim juara dari puing-puing yang berserakan akibat terancam gulung tikar.

Situasi yang dihadapi Liverpool memang tak seburuk Dortmund satu dekade lalu. Kini, The Reds tidak berada di ambang kebangkrutan. Benang merah di antara keduanya hanya dalam urusan prestasi.  Dulu, Dortmund tercecer di papan tengah dan bawah klasemen sebelum Klopp datang. Sekarang, The Reds membutuhkan jasa Klopp ketika tak menunjukkan penampilan impresif di bawah arahan Rodgers serta terjerembab di peringkat ke-9 klasemen sementara Liga Primer Inggris 2015--2016.

Melihat kesamaan itu, manajemen The Reds tentu berharap Klopp bisa mengeluarkan mantranya pada musim ini seperti yang sudah ia lakukan di Dortmund. Meraih gelar juara Liga Primer Inggris 2015--2016 memang terlalu muluk. Jika ingin realistis, Klopp rasanya lebih layak difokuskan untuk membawa Jordan Henderson dkk berada di empat besar klasemen akhir sehingga bisa tampil di Liga Champions musim depan atau merebut gelar di ajang cup competition (Liga Europa, Piala FA, dan Capital One).

Klopp sadar dengan tantangan dan tekanan yang bakal ia hadapi. Oleh karena itu, manajer berusia 48 tahun tersebut tak mau memberikan mimpi terlalu tinggi. 

"Tolong beri kami waktu. Semuanya harus bersabar. Liga Primer Inggris adalah sebuah kompetisi yang sangat sulit. Banyak lawan dengan nama besar di sini.  Kami bisa saja sukses dengan cara Liverpool yang spesial tapi kami harus menunggu," ujar Klopp.

“Saya tidak ingin mengatakan kami harus menunggu 20 tahun. Saya yakin Liverpool bakal juara selama saya berada di sini selama empat tahun ke depan," tambah pria yang sempat digosipkan bakal melatih Bayern Muenchen itu.

Klopp bukan bermaksud untuk mematikan mimpi apalagi menghentikan euforia fan The Reds. Percayalah, ia bukan sosok seperti itu. Saat tiba di Dortmund, Klopp juga tak langsung berjanji memberikan gelar juara. Namun ketika semuanya mau bersabar, perlahan tapi pasti Klopp sukses menjadikan Dortmund sebagai yang terbaik di Jerman selama dua musim berturut-turut.

Berkaca dari hal itu, fan dan manajemen rasanya pantang menyalahkan Klopp ketika The Reds gagal bersaing di Liga Primer Inggris pada akhir musim ini. Toh dalam sejarahnya, Liverpool memang selalu bernasib buruk ketika melakukan pergantian manajer pada tengah musim. Bahkan sosok seperti Kenny Dalglish juga tak mampu menyulap The Reds menjadi tim juara saat ditunjuk menjadi manajer pada pertengahan 2010--2011. 

Sama seperti Klopp, Dalglish juga bukan manajer sembarang. Ia pernah membawa Blackburn Rovers menjadi juara Liga Primer Inggris 1994--1995 dan menjadikan The Reds sebagai tim terbaik di Inggris pada 1985--1986, 1987--1988, dan 1989--1990. Namun dengan curriculum vitae seperti itu Dalglish juga tak punya kuasa untuk memberikan prestasi kepada The Reds dalam waktu singkat.

Dalglish dipilih untuk mengisi posisi manajer The Reds  usai ditinggal Roy Hodgson pada 8 Januari 2011. Liverpool berada di posisi ke-10 klasemen sementara pada saat itu. Sang maestro memiliki 18 laga untuk mengubah nasib The Reds. Namun apa daya, semua jurus Dalglish hanya mampu membawa Steven Gerrard dkk bertengger di peringkat ke-6 klasemen akhir pada saat itu.

Fan The Reds boleh berpesta melihat Klopp datang. Tapi menaruh harap terlalu tinggi bisa menjadi bumerang. Kejadian yang menimpa Dalglish bukan tidak mungkin dialami Klopp pada musim ini.

Satu hal yang bisa dilakukan fan The Reds pada saat ini ialah membiarkan sang juru selamat bekerja. Ia memiliki empat tahun untuk membuktikan janji mengembalikan The Reds kembali ke habitatnya yakni papan atas Liga Primer Inggris.

Rapor Liverpool saat mengalami pergantian manajer pada tengah musim
Musim 2010--2011 (8 Januari 2011)
Roy Hodgson ke Kenny Dalglish
Main: 18
Menang: 10
Seri: 3
Kalah: 5
Posisi di klasemen akhir: Peringkat ke-6
(Sempat di posisi ke-19 ketika pekan ke-8)

Musim 1993--1994 (31 Januari 1994)
Graeme Souness ke Roy Evans
Main: 16
Menang: 5
Seri: 2
Kalah: 9
Posisi di klasemen akhir: Peringkat ke-9
(Sempat di peringkat ke-13 ketika pekan ke-9)

Musim 1990--1991 (22 Februari 1991)
Kenny Dalglish ke Ronnie Moran

Main: 14
Menang: 7
Seri: 1
Kalah: 6
Posisi di klasemen akhir: Peringkat ke-2
(Berada di posisi pertama sebelum pergantian)


(HIL)

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

1 day Ago

Pengacara terdakwa kasus korupsi KTP-el Setya Novanto, Maqdir Ismail menuding dakwaan milik KPK…

BERITA LAINNYA