Warga Benarkan Lingkungan Kediaman Agus, Bebas

Ilham wibowo    •    Sabtu, 10 Oct 2015 21:42 WIB
mayat bocah dalam kardus
Warga Benarkan Lingkungan Kediaman Agus, Bebas
Petugas kepolisian mengamankan tersangka Agus Dermawan seusai rilis pengungkapan kasus pembunuhan dan pencabulan anak di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (10/10). MI/ARYA MANGGALA

Metrotvnews.com, Jakarta: Warga membenarkan lingkungan tempat tinggal Agus Dermawan, 39, dikenal bebas. Kebebasan ini membuat Polisi mengalami kesulitan dalam menyelidiki kasus pembunuhan dan pencabulan terhadap PNF, 9, yang menjerat Agus.

"Kalau dibilang bebas bisa, karena di sana (bedeng Agus) ada lapangan, siapa aja bebas bermain," tutur Misan, ketua RT 05/RW 07, Kelurahan Kalideres, kepada Metrotvnews.com, Sabtu (10/10/2015) malam.

Misan sering kali menemukan sekelompok anak berumur 13-14 tahun berkumpul di bedeng Agus hingga larut malam. "Ada yang main gitar, mereka juga merokok, tapi kalau ditemukan langsung saya tegur, saya suruh pulang," tutur dia.

Dia pun tak menyangka Agus merupakan pelaku pembunuhan dan pencabutan terhadap PNF. Sebab walaupun residivis, warga hanya melihat sosok Agus ini orang baik-baik.

"Mungkin ada juga orang tua yang tidak mengetahui Agus itu residivis, warga hanya tahu Agus orangnya baik," ucap dia.

Sebelumya, Polda Metro Jaya mengaku mengalami kesulitan dalam menyelidiki pencabulan dan pembunuhan terhadap PNF yang dilakukan Agus Dermawan. Pasalnya, warga sekitar menganggap Agus sosok yang baik hingga dia bisa membentuk Geng Boel Tacos seperti diceritakan dalam buku yang ditemukan polisi.

"Ada buku yang didapatkan dari salah satu anak-anak, menggambarkan tentang kelompok 'Boel Tacos', mereka diajak ngeganja, nyabu," kata Direksrimum Polda Metro Jaya Kombes Krisna Murti.

Dari penemuan tersebut, lanjut dia, menunjukan bagaimana orang tua di lingkungan tersebut amat membebaskan anak-anaknya bermain. Mereka diperbolehkan bergaul hingga menginap di bedeng milik residivis kasus narkoba tersebut.

"Semua umurnya di bawah 14 tahun. Ini menunjukkan pelakunya sangat luar biasa dan begitu permisifnya orang tua membiarkan anaknya bergaul dengan tersangka (Agus)," ungkap Krishna.

Menurut dia, faktor kedekatan ini membuat penyidik agak kesulitan saat mengulik profil Agus. Penyidik, kata Krishna, membutuhkan waktu berhari-hari untuk bisa mendapatkan keterangan terkait sosok Agus.

"Anak-anak ini, mereka tidak akan berbicara pada orang yang tidak bisa dipercaya. Sebagian saksi bersifat tertutup, pemeriksaan DNA juga membutuhkan waktu, sikap orang tua di lokasi tempat tinggal juga jadi kendala. Penyidik sempat menelusur jejak yang salah," beber dia.

 


(OGI)