Kenakan Cukai Diusulkan untuk Minuman Karbonasi dan Berpemanis

Husen Miftahudin    •    Senin, 12 Oct 2015 15:04 WIB
minuman beralkohol
Kenakan Cukai Diusulkan untuk Minuman Karbonasi dan Berpemanis
Illustrasi. Foto: Amaluddin

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengusulkan kepada pemerintah untuk mengenakan cukai pada minuman berkarbonas dan pemanis.

Menurut dia, pengenaan cukai pada dua objek tersebut mampu meningkatkan penerimaan negara melalui cukai yang setiap tahun terus meningkat sekitar 6-7 persen.

Ia memaparkan, pengenaan cukai ditujukan pada barang-barang yang perlu dikendalikan peredarannya. Sesuai dengan Undang Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang cukai bahwa pengenaan cukai kepada suatu barang tertentu karena barang tersebut menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan hidup.

"Yang harus dikendalikan selain rokok adalah barang-barang yang berdampak ke kesehatan dan konsumsi berlebihan. Seperti minuman karbonasi dan barang yang mengandung bahan pemanis sangat banyak. Itu kan jauh lebih berbahaya bagi kesehatan dan harus dikendalikan," ujar Enny dalam workshop bertajuk Kebijakan Cukai dan Dampaknya terhadap Industri Rokok di Hotel Menara Peninsula, Jalan Letjen S Parman No 78 Slipi, Jakarta Barat, Senin (12/10/2015).

Ia menjelaskan, saat ini penerimaan negara melalui cukai baru dari tiga objek pengenaan, yakni hasil tembakau, ethil alkohol, serta minuman mengandung ethil alkohol (MMEA). Penerimaan terbesar ada pada cukai hasil tembakau (CHT) dengan persentase sekitar 95 persen dari total penerimaan cukai.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Heru Pambudi mengakui, cukai hasil tembakau (HT) merupakan barang kena cukai yang memiliki sumbangan tertinggi pada penerimaan cukai.

Tercatat, realisasi penerimaan cukai hingga 6 Oktober 2015 mencapai Rp89,89 triliun yang terdiri dari cukai hasil tembakau sebanyak Rp86,5 triliun, ethil alkohol sebesar Rp111,9 miliar‎, minuman mengandung ethil alkohol (MMEA) Rp3,1 triliun, dan pendapatan cukai lainnya sebesar Rp96 miliar.



(SAW)