Disebut Gebrak Meja Oleh Saksi, Ini Pembelaan SDA

Meilikhah    •    Selasa, 13 Oct 2015 00:14 WIB
kasus korupsi
Disebut Gebrak Meja Oleh Saksi, Ini Pembelaan SDA
Suryadharma Ali turun dari mobil tahanan. Foto: MTVN/Achmad Zulfikar Fazli.

Metrotvnews.com, Jakarta: Mantan Menteri Agama Suryadharma Ali (SDA) mengaku punya alasan mengapa dirinya sempat naik pitam kepada saksi Rosandi saat meminta dibuatkan kwitansi penggantian Dana Operasional Menteri (DOM) untuk keperluan pembuatan paspor anak dan cucunya. SDA berdalih marah lantaran dirinya tak pernah menggunakan dana DOM untuk kepentingan pribadi.

"Saya tidak pernah memerintahkan penggunaan DOM untuk kepentingan keluarga saya. Itu yang membuat saya marah," kata SDA, dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Selatan, Senin (12/10/2015).

Mendengar pernyataan SDA, Rosandi selaku staf tata usaha Kementerian Agama dan pemegang buku kas DOM mengatakan bahwa dalam catatannya SDA pernah beberapa kali menggunakan dana DOM untuk keperluan pribadi.

Bahkan janji bahwa DOM hanya dana talangan keperluan keluarga yang bakal diganti dengan uang pribadi, menguap begitu saja.

Melalui berita acara pemeriksaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum pada KPK, Rosandi merinci keperluan keluarga SDA yang menggunakan dana DOM.

Di antaranya, pembelian uang dollar AS untuk perjalanan SDA dan keluarga ke Melbourne, Australia, tempat anak SDA sekolah. Pembuatan paspor dan visa untuk sejumlah orang termasuk istri dan pejabat Kemenag, bahkan biaya berobat hingga pembelian alat tes kesehatan untuk beberapa anggota keluarga.

Rosandi menegaskan di hadapan persidangan bahwa seluruh pemasukan dan pengeluaran dana DOM tertulis secara jelas dan rinci, termasuk bahwa SDA menggunakan dana DOM tercatat di sana.

"Betul memang ada catatan seperti itu, tapi kalau bapak tidak pernah memerintahkan itu kan saya tidak tahu karena saya tidak pernah berhubungan langsung dengan bapak. Kalau kepentingan pribadinya saya tidak tahu. Kalau sama keluarga kan saya anggap itu pribadi, pak," ucap Rosandi.

Suryadharma didakwa melakukan korupsi secara bersama-sama dengan kader PPP Mukhlisin, mantan Wakil Ketua Umum PPP Hasrul Anwar, staf khusus SDA Ermalena dan pengawal istri SDA, Mulayanah, terkait penyelenggaran ibadah haji dan penggunaan dana operasional menteri. Dari korupsi itu ia didakwa merugikan keuangan negara sejumlah Rp27 miliar.

SDA diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) Jo. Pasal 18 atau Pasal 3 Jo. Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana Jo. Pasal 65 Ayat (1) KUHP.


(DEN)