Belanda Segera Sebutkan MH17 Jatuh Akibat Rudal Buatan Rusia

Fajar Nugraha    •    Selasa, 13 Oct 2015 09:52 WIB
malaysia airlines
Belanda Segera Sebutkan MH17 Jatuh Akibat Rudal Buatan Rusia
Puing pesawat Malaysia Airlines MH17 (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Amsterdam: Badan Keselamatan Belanda akan mengumumkan hasil penyelidikan atas jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17. Mereka akan menyebutkan bahwa pesawat itu jatuh dihantam rudal buatan Rusia.

Namun badan tersebut tidak menyebutkan siapa pihak yang meluncurkan rudal tersebut. Adapun rudal yang dimaksud adalah rudal jenis Buk. Demikian diberitakan Associated Press, Selasa (13/10/2015).

Pesawat Malaysia Airlines MH17 ditembak di wilayah yang dikuasai oleh pasukan separatis pro-Rusia, di Ukraina. Insiden 17 Juli 2014 itu, menewaskan seluruh 298 orang yang berada di dalam pesawat itu.

Para ahli dan negara Barat yakin bahwa kelompok separatis yang menembak jatuh pesawat itu. Mereka diduga salah mengira bahwa pesawat itu adalah pesawat militer Ukraina.

Sementara pihak Rusia sendiri menyebutkan bahwa pesawat itu bisa saja ditembak jatuh oleh pesawat tempur Ukraina.

Direktur Badan Keselamatan Belanda Tjibbe Joustra akan menyerahkan hasil penyelidikan pada Selasa (13/10/2015) waktu setempat. Mereka akan menyerahkan hasilnya pertama kali kepada pihak keluarga kemudian kepada jurnalis di pangkalan militer di Gilze-Rijen.

Diyakini bahwa hasil penyelidikan akan menyebutkan bahwa pesawat dihantam oleh rudal Buk buatan Rusia. Namun badan ini tidak memiliki otoritas untuk menyatakan siapa yang bertanggungjawab atas jatuhnya pesawat Boeing 777-200 tersebut.

Sebelumnya pada September 2014 badan ini mengeluarkan temuan yang menyebutkan, pesawat ini jatuh karena benda dengan energi besar yang berasal dari luar pesawat.

Sementara penyelidikan kriminal internasional yang dilakukan terpisah, masih terus berlangsung. Jaksa penuntut Fred Westerbeke mengatakan, dia tidak akan berhenti hingga yang bertanggungjawab dalam insiden tersebut bisa diadili.

Namun jaksa penuntut tidak bisa mengeluarkan dakwaan sebelum lokasi kejadian diputuskan. Juli lalu, Rusia memveto proposal Belanda di PBB, untuk membentuk pengadilan internasional. Atas keputusan itu, Belanda pun mencari alternatif lain.


(FJR)