Dana FLPP Habis, Perbankan Diminta Salurkan Rumah Murah

   •    Rabu, 14 Oct 2015 15:44 WIB
perumahan
Dana FLPP Habis, Perbankan Diminta Salurkan Rumah Murah
Illustrasi. FOTO ANT/FB Anggoro

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Perencanaan Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Poltak Sibuea, menuturkan, kendati pembiayaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) telah habis, perbankan diminta tetap mencairkan pembiayaan bagi rumah murah.

Menurut dia, Kementerian PUPR menjamin akan memberikan dana kompensasi bagi fasilitas bank yang telah menyalurkan Kredit Pembiayaan Rumah (KPR) pascahabisnya dana FLPP sebesar Rp5,1 triliun sejak Juli 2015.

Dengan tetap menyalurkan pembiayaan, maka hal tersebut dinilai tidak menghambat pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

"Kami arahkan ke dana subsidi pemerintah untuk membayar itu (FLPP)," katanya sebagaimana dikutip dari Antara, Rabu (14/10/2015).

Berdasarkan data Kementerian PUPR, dana bidang perumahan adalah Rp184,663 triliun dengan target utama pembangunan rusunawa sebanyak 61.575 unit, pembangunan Rumah Khusus sebanyak 21.285 unit dan penanganan kawasan kumuh sebanyak 37.407 ha (hektare).

Sebelumnya, Indonesia Property Watch (IPW) mengingatkan pemerintah agar benar-benar fokus pada pengembangan perumahan menengah-bawah yang dinilai bisa menyelamatkan sektor properti yang mengalami penurunan penjualan pada 2015. IPW mengatakan ini karena dana FLPP sebesar Rp5,1 triliun untuk membiayai 68 ribu unit rumah telah habis terpakai per Juli 2015, sedangkan permintaan masih cukup banyak.

"Selain itu, aturan uang muka sebesar satu persen belum sepenuhnya dapat terlaksana di lapangan dengan berbagai syarat yang ditetapkan," ujar dia.

Ia memaparkan bahwa kondisi ekonomi saat ini membuat konsumen perumahan, baik segmen menengah-atas atau segmen menengah-bawah turut melakukan aksi penundaan pembelian rumah. Pemantauan yang dilakukan IPW di beberapa lokasi bahkan terjadi diskon harga rumah hampir mencapai 30 persen. Namun hal tersebut tidak dapat mengerek penjualan.

"Meskipun hal ini tidak dapat menggambarkan kondisi pasar perumahan secara umum, namun fenomena ini harus disikapi pemerintah lebih serius untuk menghindari keterpurukan pasar perumahan secara nasional lebih dalam lagi," jelasnya.


(SAW)