Cerita Pilu Korban Kabut Asap

Arga sumantri    •    Rabu, 14 Oct 2015 23:23 WIB
kabut asapdpr ads
Cerita Pilu Korban Kabut Asap
Foto ilustrasi kabut asap. (AntaraSheravim)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bencana kabut asap yang terjadi pada sejumlah daerah di Indonesia kian mengkhawatirkan. Warga yang jadi korban kabut asap terus mengeluhkan kondisi lingkungan yang tak kunjung membaik.

Mukhlis, adalah salah satu warga Riau yang menjadi korban kabut asap. Dia harus rela kehilangan anak perempuannya, Hanum Anggriawati, 12, yang meninggal karena sakit akibat saban hari menghirup kabut asap.

Mukhlis menceritakan, mulanya Hanum hanya menderita radang pernafasan. Selama sepekan, anak perempuannya itu mengalami batuk ringan tiada henti. "Kabut asap inilah yang jadi pemicu, membuat anak saya mengalami radang pernafasan," ungkap Mukhlis dalam acara Mata Najwa, Rabu (14/10/2015).

Setelah tujuh hari terus mengalami batuk tiada henti, Mukhlis kemudian membawa Hanum ke rumah sakit. Sepekan di rumah sakit, gangguan pernafasan yang diderita Hanum nyatanya tak kunjung membaik. "Akhirnya Allah memanggilnya," imbuh Mukhlis sambil coba menahan air matanya.

Cerita pilu kabut asap, juga datang dari Norhadi, warga yang jadi korban kabut asap di Kalimantan. Norhadi menuturkan, saat ini di tempat tinggalnya, yang berjarak tujuh jam perjalanan darat dari Kota Palangkaraya, Kalimantan, hanya punya jarak pandang normal sejauh 20 meter.

"Selain kabut asap, kita juga berhadapan dengan debu, penuh debu. Jadi kalau di jalan itu seluruh badan ini sudah tidak nampak lagi warna baju," lirih Norhadi.

Kondisi di dalam rumah, kata Norhadi, tak jauh berbeda. Dia dan keluarga harus rela menghirup kabut asap sepanjang hari. "Sampai malam kita selalu hirup kabut asap," tandas Norhadi.

Anggota keluarga Norhadi, saat ini mengalami gangguan kesehatan. Istri Norhadi sempat mendapat perawatan selama sepekan oleh bidan desa lantaran sakit gangguan pernafasan. Kondisi serupa juga dialami anak perempuan Norhadi yang masih berumur tujuh tahun.

"Sekarang (anak perempuan) masih rawat jalan di rumah sakit. Total ada lima orang anggota keluarga saya alami gangguan kesehatan karena kabut asap ini," ungkap Norhadi.

Desakan untuk menjadikan kabut asap di Sumatra dan Kalimantan jadi bencana nasional semakin menguat. Salah satunya dilontarkan Wakil Ketua Komisi II Lukman Edy yang meminta pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) penetapan asap jadi bencana nasional.

Lukman menilai asap yang merupakan dampak dari kebakaran hutan sudah memenuhi persyaratan untuk jadi bencana nasional. "Jangan melihat korban nyawa. Tapi lihat jumlah masyarakat yang sudah terkena penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas)," kata Wakil Ketua Komisi II Lukman Edy di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 13 Oktober.

"Substansi persyaratan untuk ditetapkan sebagai bencana nasional. Karena asap ini tidak sekarang terasa dampaknya. Berbeda dengan Tsunami yang langsung ada korban jiwanya," imbuh dia.


(AZF)