Diversifikasi Pangan, Kembali ke Warisan Kuliner Nusantara

   •    Jumat, 16 Oct 2015 23:40 WIB
pangan
Diversifikasi Pangan, Kembali ke Warisan Kuliner Nusantara
Kegiatan panen jagung di Lamongan, Jatim.MTVN/Istimewa

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah, diakui atau tidak, sejatinya belum mampu mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri. Sebab itu, pemerintah masih harus mengimpor kebutuhan pangan.

Data Badan Pusat Statistik, buat menutupi kebutuhan pangan, pemerintah saban tahun harus menyediakan 60 juta ton padi, 20 juta ton jagung, dan 2,4 juta ton kedelai. Kebutuhan akan padi begitu tinggi karena masyarakat terjebak pada pola konsumsi beras.

Nah, untuk mengerem ketergantungan terhadap beras, pemerintah kini mulai menggalakkan program diversifikasi pangan. Karena, ketergantungan terhadap beras juga membuat program swasembada pangan seperti jalan di tempat.

Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, pola konsumsi berorientasi pada beras membuat bentuk konsumsi masyarakat tak ideal. Padahal, Indonesia punya ribuan tanaman pangan pengganti padi.

Jagung, misalnya. Direktur Corporate Engagement Monsanto Indonesia, Herry Kristanto, mengatakan, sebelum beras, jagung adalah makanan pokok di beberapa daerah. Jadi, tak heran kalau Indonesia kaya warisan kuliner lokal berbahan dasar jagung.

Di Jawa Timur, contohnya, ada beras jagung atau nasi empok. Sajian ini lumrahnya dikudap bersama urap, sambal, dan ikan asin. Nasi jagung juga sohor di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Utara.

Selain nasi jagung, masyarakat Sulawesi pun punya kudapan khas lain berbasis jagung, yaitu kagili butin, kambewe muna, moronene, dan tinutuan. Jagung juga digunakan sebagai bahan dasar kue dan makanan penutup di Sulawesi.

Pendek kata, menurut Herry, jagung berpotensi jadi bahan pangan prospektif untuk diversifikasi. Jagung juga penuh gizi.

Persoalannya, tambah Herry, meski bermanfaat, toh masih ada stigma jagung adalah makanan masyarakat berpenghasilan rendah. Ini yang membuat konsumsi jagung nasional rendah, makanya harus diubah.

Satu kiat mengenyahkan stigma itu adalah mempromosikan kembali warisan kuliner khas Nusantara berbasis jagung. Ini bukan mustahil dan sulit. Masakan khas Nusantara berbasis jagung sangat beragam. Rasanya pun pas di lidah.

Apalagi, sekarang, di berbagai kota banyak berkembang komunitas gerakan hidup sehat. Nah, dengan mengandeng mereka, jagung bisa naik kelas.

Di samping jagung, masih banyak warisan kuliner Nusantara berbasis umbi-umbian dan tanaman pangan lain. Pendek kata, semua itu bisa dipromosikan kembali untuk mendorong program diversifikasi pangan nasional.


(ICH)

MKD Tunda Pembahasan Nasib Novanto di DPR

MKD Tunda Pembahasan Nasib Novanto di DPR

6 hours Ago

Salah satu yang akan dibahas dalam rapat MKD itu adalah status Setya Novanto sebagai kasus koru…

BERITA LAINNYA