Kadin Minta DHE Disimpan di Dalam Negeri

Dian Ihsan Siregar    •    Senin, 19 Oct 2015 15:01 WIB
cadangan devisa
Kadin Minta DHE Disimpan di Dalam Negeri
Ilustrasi (MI/USMAN ISKANDAR)

Metrotvnews.com, Jakarta: Posisi cadangan devisa milik Indonesia terbilang minim yakni hanya sekitar USD101,7 miliar per September 2015. Angka itu mengalami penurunan bila dibandingkan Januari 2015 sebesar USD114,2 miliar‎. Tidak ditampik penurunan cadangan devisa itu terjadi karena banyaknya dana hasil ekspor yang diparkirkan di luar Indonesia.

Hal ini seperti diungkapkan Ketua Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto‎, ketika ditemui dalam 'Rapat Kerja Nasional Kadin Indonesia bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional', di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta, Senin (19/10/2015).

"Tipisnya cadangan devisa karena (dana) hasil ekspor diparkir bukan di Indonesia. Jika hasil ekspor dimasukkan di perbankan dalam negeri maka permintaan USD meningkat. Permintaan USD bukan di supply dari BI saja. Kalau sekarang yang jualan USD cuma BI. Ini perlu jadi perhatian pemerintah," jelas dia.

Dia berharap, dengan adanya paket kebijakan ekonomi utamanya paket ekonomi jilid II yang memberikan insentif bagi para eksportir yang menempatkan Devisa Hasil Ekspor (DHR) di perbankan dalam negeri maka jumlah USD yang beredar meningkat sehingga bisa menekan penguatan USD.

"Jadi jangan melulu lagi hasil ekspor ditempatkan keluar. Dekarang kita harus parkir di dalam negeri," tegas dia.

Sebagai informasi, pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi tahap kedua. Paket itu terdiri dari kemudahan layanan investasi tiga jam, pengurusan tax allowance dan tax holiday lebih cepat, pemerintah tidak memungut PPN untuk alat transportasi, insentif fasilitas di kawasan pusat logistik berikat, insentif pengurangan bunga pajak deposito, dan perampingan izin sektor kehutanan.

Untuk pengurangan bunga pajak deposito akan memperbesar valuta asing di Indonesia. Adapun caranya DHE yang disimpan dalam bentuk deposito selama satu bulan di Indonesia tarif pajak bunga deposito akan diturunkan menjadi 10 persen, tiga bulan menjadi 7,5 persen, enam bulan menjadi 2,5 persen, dan di atas enam bulan menjadi nol persen.


(ABD)