Kinerja Ekonomi Tiongkok Melambat di Kuartal III-2015

   •    Senin, 19 Oct 2015 18:44 WIB
tiongkok
Kinerja Ekonomi Tiongkok Melambat di Kuartal III-2015
tiongkok. foxnews

Metrotvnews.com, Beijing: Tiongkok mencatat kinerja terburuknya sejak krisis keuangan global pada kuartal ketiga, menambah kekhawatiran atas kesehatan ekonomi di seluruh dunia. Produk domestik bruto (PDB) di ekonomi terbesar kedua dunia itu tumbuh hanya 6,9 persen, tingkat paling lambat dalam enam tahun terakhir di kuartal ketiga.

"Pertumbuhan ekonomi Tiongkok masih lamban karena banyak risiko masih belum terselesaikan," kepala ekonom ANZ Banking Group untuk Tiongkok Liu Ligang mengatakan kepada AFP sebagaimana dikutip dari Antara, Senin (19/10/2015).

Ia memperkirakan PDB akan ekspansi 6,4 persen pada tahun depan. Sebagai pedagang terbesar dunia dalam barang dan pasar raksasa untuk dirinya sendiri, Tiongkok merupakan pendorong utama ekonomi global, dan bursa saham di seluruh dunia telah terpukul dalam beberapa pekan terakhir oleh kekhawatiran atas masa depannya.

Data pada Senin yang terburuk sejak kuartal pertama 2009, meskipun berada sedikit di atas perkiraan median dalam jajak pendapat para analis oleh AFP. Hal ini menimbulkan kekhawatiran investor terhadap PDB sejak kemerosotan pasar saham Tiongkok selama musim panas, menyusul langkah devaluasi mata uang mengejutkan pada Agustus.

Seorang juru bicara Biro Statistik Nasional (NBS) menggambarkan penurunan sedikit melambat tetapi mengatakan ekonomi masih berjalan dalam kisaran yang tepat.

PDB Tiongkok tumbuh 7,3 persen pada tahun lalu, laju paling lambat sejak 1990, dan 7,0 persen di masing-masing pada kuartal pertama dan kedua tahun ini. Pemerintah telah menetapkan target sekitar tujuh persen untuk tahun ini.

Louis Kuijs, kepala ekonomi Asia di Oxford Economics, mengaitkan penurunan Juli-September dengan berlanjutnya tekanan turun dari real estat dan ekspor, Tetapi konsumsi dan infrastruktur yang kuat mencegah pelambatan tajam, meskipun kekhawatiran tentang data akan berlanjut.

Penjualan ritel, indikator penting dari pengeluaran konsumen, meningkat 10,9 persen pada September, kata pemerintah, sedikit di depan ekspansi bulan sebelumnya.

Investasi aset tetap, ukuran pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur, meningkat 10,3 persen pada periode Januari-September tahun ini, lebih rendah dari median proyeksi untuk peningkatan 10,8 persen, menurut survei oleh Bloomberg News.

Namun produksi industri yang mengukur hasil (output) pada pabrik-pabrik, bengkel kerja dan tambang, naik hanya 5,7 persen tahun-ke-tahun pada September, NBS mengatakan angka ini turun tajam dari Agustus dan gagal memenuhi median estimasi para ekonom 6,0 persen.

Para analis sekarang banyak berharap Beijing untuk lebih meningkatkan belanja fiskal dan melonggarkan kebijakan moneternya sebelum akhir tahun untuk mencegah pelambatan tajam dalam pertumbuhan.

Tiongkok telah memangkas suku bunganya sebanyak lima kali dalam setahun dan mengurangi jumlah kas yang bank-bank wajib pertahankan untuk meningkatkan pinjaman, tetapi stimulus belum bisa dilihat secara substansial mendorong pertumbuhan ekonomi riil.



(SAW)

KPK Bakal Pelajari Pernyataan Miryam

KPK Bakal Pelajari Pernyataan Miryam

18 hours Ago

Miryam S. Haryani yang menyebut ada pertemuan anggota Komisi III DPR dengan pejabat KPK setingk…

BERITA LAINNYA