PLN Teken PPA 4.000 MW

Husen Miftahudin    •    Selasa, 20 Oct 2015 18:52 WIB
proyek 35.000 mw
PLN <i>Teken</i> PPA 4.000 MW
Direktur Utama PLN Sofyan Basir (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah memastikan pembangunan mega proyek kelistrikan sebesar 35 ribu megawatt (MW) akan rampung pada 2019. Untuk mengejar pembangunan tersebut, pemerintah melalui PT PLN (Persero) melakukan kerja sama pembelian listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) sebesar 4.000 MW.

Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengungkapkan, PPA 4.000 MW dilakukan di empat pembangkit listrik melalui penunjukkan langsung. Empat pembangkit listrik tersebut adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati B, PLTU Indramayu, PLTU Cirebon, dan PLTU Cilacap.

Ia mengaku, pembangunan pembangkit listrik membutuhkan waktu sekitar dua hingga empat tahun pengerjaan. Pembangunan pembangkit listrik yang lebih kecil butuh waktu sekira dua hingga tiga tahun dan akan dimulai pada tahun depan. Sedangkan pembangkit listrik yang besar butuh waktu pengerjaan sekitar empat tahun.

"Ini kan baru Mei dimulainya, baru empat bulan. Sekarang ini kita harap yang awal itu yang besar-besar dulu yang jalan. Karena yang besar-besar ini baru selesai empat tahun, jadi harus kita mulai 2015 supaya selesai 2019," ujar Sofyan, ditemui di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2015).

Teken PPA 4.000 MW tersebut sendiri akan dilakukan pada November hingga Desember tahun ini. Dengan begitu, jelas Sofyan, maka pembangunan pembangkit listrik tahun ini akan mencapai sebanyak 10 ribu MW.

Sebelumnya, hingga akhir September PPA pembangunan pembangkit listrik telah mencapai sebanyak 5.900 MW. "Kita perkirakan sampai akhir tahun ini sampai 10 ribu MW lebih lah," paparnya.

Sofyan menjelaskan, PPA pembangkit listrik ini dilakukan oleh pihak swasta yang ketika selesai pengerjaannya pembangkit listrik tersebut dibeli oleh pemerintah. Pemerintah sendiri telah menyiapkan dana sekitar US20 miliar untuk pembelian pembangkit listrik sebesar 10 ribu MW. "Ya tinggal dikali USD2 juta per MW," tutup Sofyan.


(ABD)