Memahami Pengeloaan SDA Bersama Suku Bajo

Ade Hapsari Lestarini    •    Selasa, 20 Oct 2015 19:44 WIB
kemenko maritimkemenko maritim ads
Memahami Pengeloaan SDA Bersama Suku Bajo
Seorang ibu warga suku Bajo menjemur ikan pari yang telah dipotong-potong di perkampungan Bajo desa Mekar Kab Konawe, Sulawesi Tenggara. (Ilustrasi FOTO ANTARA/Zabur Karuru)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Koordinator Kemaritiman, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan berkolaborasi.

Kolaborasi yang diinisiasi empat Kemenko bersama dengan Pemerintah Kota Makassar dan Kabupaten Kepulauan Wakatobi tersebut menggelar "Seminar On Bajo-Sea Nomad in Asia Pasific: Maritime Culture and Best Practise in the Management of Fisheries Resources".

Suku Bajo, yang biasa diberi istilah sea gypsy, diketahui memiliki pemahaman mendalam terhadap pengelolaan sumber daya alam (SDA) di darat dan laut di sekitar lingkungan di mana mereka tinggal.

Konsep keberlanjutan melekat dalam tatanan nilai suku bajo atau masyarakat yang hidup di sekitar pantai/laut. Mereka memiliki pengetahuan dan kearifn dalam pengelolaan sumber daya alam dan perikanan. Meskipun demikian, mereka justru menjadi kelompok yang paling rentan terkait dengan mata pencaharian dan ketersediaan sumber-sumber makanan, bahkan terpinggirkan.

Perspektif suku Bajo tidak menganggap sumber daya perikanan sebagai hak milik melainkan sebagai sumber-sumber untuk menunjang keberlanjutan kehidupan, dan menggunakan cara-cara tradisional dalam mengelola sumber daya laut dengan menerapkan prinsip-prinsip konservasi dan kehati-hatian.

Hal ini merupakan bagian penting dari budaya maritim yang memungkinkan adanya upaya-upaya perlindungan terhadap budaya, tradisi, sistem dan praktek-praktek yang dilakukan oleh suku Bajo dalam pengelolaan sumber daya alam.

Sekadar informasi, seminar dilaksanakan di dua tempat yaitu di kota Makassar dan Pulau Wakatobi, di mana terdapat Kampung Bajo terbesar, pada 20-22 Oktober 2015. Seminar bertujuan membahas hal-hal yang terkait dengan kehidupan suku Bajo yang hidup di pesisir pantai termasuk di Asia Pasifik antara lain mata pencaharian, aspek sosial ekonomi dan demography.

Dampak kebijakan di tingkat daerah dan pusat dan partisipasi suku Bajo dalam pengelolaan sumber daya alam termasuk ketahanan pangan dan praktek penangkapan ikan; dan membahas upaya-upaya perlindungan terhadap budaya, tradisi, sistem dan kearifan pengelolan sumber daya alam. Seminar dihadiri oleh para pembicara untuk memperkaya diskusi dari perspektif berbeda seperti pengajar dari British Columbia University Canada.


(AHL)