Bukan Bantuan ASAP yang Korban Asap Butuhkan

Kesturi Haryunani    •    Rabu, 21 Oct 2015 16:45 WIB
asap
Bukan Bantuan ASAP yang Korban Asap Butuhkan
Warga berjalan menembus kabut asap di kawasan Tugu Soekarno, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa (20/10). Kabut asap tebal yang berbahaya bagi kesehatan kembali menyelimuti kawasan Palangkaraya dan menyebabkan jarak pandang kurang dari 30 meter. ANTAR

Metrotvnews.com, Jakarta: Bencana asap akibat kebakaran lahan yang terjadi serentak di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, kembali memakan korban. Hasil medis menunjukkan bahwa masalah utama adalah paru-paru korban yang  penuh berisi asap. Asap yang penuh dengan partikel berbahaya. 

Konsentrasi partikel berbahaya disebut PM10, merujuk pada partikel polutan yang memiliki diameter maksimum 10 mikron atau sekitar sepertujuh rambut manusia. Pengukuran PM10 dilakukan dengan perangkat yang dilengkapi dengan pipa, filter, dan penembak sinar beta.

Udara akan masuk lewat pipa dan menuju filter. Sinar beta akan ditembakkan ke filter, menghasilkan jejak-jejak yang menunjukkan konsentrasi PM10. Hasil lalu dikonversi.

Hasil pengukuran cukup mengejutkan. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Gefisika (BMKG), PM10 di Pekanbaru, Riau, mencapai 584,44 mikrogram/meter kubik pada Rabu (21/10/2015). Lebih dari dua kali batas aman, yaitu 150 mikrogram/meter kubik.

Sementara titik tertinggi PM10 di Jambi mencapai 983,43 mikrogram/meter kubik, dan di Pontianak, Kalimantan Barat, angka PM10 menyentuh 475,73 mikrogram/meter kubik. Seluruh data tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara sudah sangat tidak sehat.
 
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 289/MENKES/SK/III/2003 tentang prosedur dampak pencemaran udara akibat kebakaran hutan terhadap kesehatan, nilai PM10 di udara lebih dari 400 sudah masuk tahap sangat berbahaya bagi semua orang. Terutama bagi balita, ibu hamil, orang tua, dan penderita gangguan pernafasan.

Di dalam produk hukum itu ditegaskan bahwa warga di daerah terdampak asap harus tetap di rumah dan menutup pintu serta jendela. Selanjutnya, segera dilakukan evakuasi selektif bagi orang berisiko, seperti balita, ibu hamil, orang tua, dan penderita gangguan pernafasan ke tempat bebas pencemaran udara.

Namun di mana ada ruang evakuasi bagi masyarakat korban asap? Jutaan orang yang mau tak mau harus menghirup udara kotor dan beracun setiap hari selama berbulan-bulan, butuh segera diselamatkan.

Padahal, artikel akibat kebakaran hutan yang berlangsung dalam jangka waktu lama tidak hanya menyebabkan iritasi mata dan Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA). Tapi juga memicu kanker dan penyakit berbahaya dalam jangka panjang.

Upaya untuk penanggulangan kebakaran hutan sudah dimulai dengan mengerahkan segala sumber daya nasional yang ada plus bantuan tim pemadam dari negara sahabat. Tetapi jangan abaikan nasib para warga. Mereka sangat membutuhkan pertolongan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, bahkan sejak bulan kemarin, bukan yang ASAP (as soon as possible). 

 


(LHE)

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

6 hours Ago

Pengacara terdakwa kasus korupsi KTP-el Setya Novanto, Maqdir Ismail menuding dakwaan milik KPK…

BERITA LAINNYA